“Makasih ya, Lit… kamu udah mau jenguk Brian di tengah kesibukan kamu,” ucap Roy pelan.Dalam hati, Roy berharap setidaknya Brian terbangun. Berharap ada satu momen saja di mana adiknya bisa melihat Lalita datang untuknya.“Iya kak… kalau gitu Lita pulang dulu ya.”Roy hanya mengangguk.***Benar saja.Begitu Lalita sampai di rumah, Hadi sudah menunggunya di ruang tengah. Duduk tegak, tangan bersedekap, wajah datar.Lalita menatap ayahnya malas.“Kenapa, pa? Papa mau ngomel lagi?” tanya Lalita asal.“Percuma ngomelin kamu,” jawab Hadi singkat. “Toh kamu udah pergi. Tapi mulai sekarang, nggak boleh lagi. Pokoknya nggak boleh.”“Iya pa, iyaaa… next Lita nggak pergi,” sahut Lalita cepat, setengah menyerah.Hadi menghela napas. “Gimana keadaan Brian?”Lalita terdiam sejenak, lalu duduk di sofa dengan bahu merosot.“Entahlah, pa. Tadi Lita datang pas dia udah tidur. Kondisinya sesuai yang kak Roy ceritain siang tadi. Brian mute… enggak ngomong.”Ia menelan ludah, suaranya mulai berat.“Kel
Last Updated : 2026-01-01 Read more