Alya tampak linglung sejenak, lalu tiba-tiba membuka mata.Pria itu berbau alkohol, mata merahnya menunjukkan maksud yang sangat jelas.Alya sangat mengantuk, juga sangat lelah, jadi dia tidak tertarik sama sekali."Emran, hari ini aku sangat lelah," kata Alya."Kamu nggak perlu melakukan apa pun." Emran tertawa pelan, tidak ada niat untuk melepaskannya.Alya menarik napas dalam, mencoba berkomunikasi dengan suara tenang, "Sejak kita menikah, kamu melakukannya setiap hari. Apa kamu nggak lelah?""Aku masih muda, kenapa aku harus lelah?" Emran menunduk untuk menggigit daun telinganya. "Berikan aku anak perempuan, ya?""Aku nggak ingin punya anak," tolak Alya."Kenapa?" Emran mengangkat kepala, mengerutkan kening menatapnya, lalu berpikir sejenak sebelum bertanya, "Apa kamu takut sakit?""Bukan masalah sakit atau nggak. Aku sekarang memang nggak ingin memiliki anak lagi." Suara Alya terdengar tegas, "Aku sudah memiliki Ricky, satu anak laki-laki sudah cukup untukku.""Ricky akan kesepian
Magbasa pa