LOGIN"Aku mengerti." Jefri terdiam sejenak, lalu bertanya, "Lalu, kita harus bilang apa ke Nyonya?""Kalau istriku tanya, katakan saja Julia sudah pindah ke luar negeri dan nggak lagi berhubungan denganku.""Aku mengerti."Setelah menutup telepon, Emran mengusap pelipisnya.Semoga Julia bersikap bijaksana.…Alya menginap di rumah sakit selama satu malam dan merasa jauh lebih baik.Keesokan harinya, Emran mengantar Alya pulang ke rumah Keluarga Witanda.Setelah sampai di rumah, mereka pertama-tama pergi ke Gedung Witanda untuk berbagi kabar baik dengan beberapa tetua.Tuan Besar Arnan dan Nyonya Besar Dila sangat gembira, mereka memberi Alya sebuah amplop besar.Alya tidak ingin menerimanya, tetapi Tuan Besar Arnan mengatakan ini adalah amplop keberuntungan untuk cicit mereka. Alya harus menerimanya agar cicit mereka bisa lahir dengan selamat dan sehat.Meskipun Alya tidak tahu apa ada tradisi atau kebiasaan seperti ini, dia tidak menolak lagi karena para tetua begitu bersikeras.Lukas dan
Suasana hati Alya sedang kurang baik, jadi dia tertidur tidak lama setelah berbaring.Setelah Alya tertidur, Emran bangun dan pergi ke luar kamar rawat.Setelah menyaksikan adegan itu, Lexa jadi merasa agak canggung menghadapi Emran sekarang.Sementara itu, Emran tetap tenang dan berkata, "Lebih baik kamu kembali ke perusahaan dulu. Biar aku yang mengurus semuanya di sini."Lexa mengangguk. "Baik.""Tunggu sebentar." Emran memanggil Lexa."Ada apa lagi, Pak Emran?""Kalau kamu punya waktu luang dalam beberapa hari ke depan, tolong buatkan aku beberapa catatan."Lexa mengernyit. "Catatan? Catatan apa?""Kamu sudah bersama Alya selama bertahun-tahun, jadi kamu pasti sudah cukup mengenalnya, 'kan?"Lexa langsung mengerti."Aku paham kebiasaan makan Bu Alya sehari-hari, aku juga yang bertanggung jawab atas pakaiannya untuk jamuan bisnis.""Bagus sekali. Kalau begitu, tolong buatkan catatan rinci untukku berdasarkan apa yang kamu ketahui.""Baik," jawab Lexa....Setelah Lexa pergi, Emran m
Setelah 18 tahun Alya memendam cinta bertepuk sebelah tangan kepada Emran, akhirnya sekarang pria itu membalas perasaannya.Air mata Alya merupakan campuran dari terlalu banyak emosi.Setidaknya, saat ini Alya merasa bahagia....Setelah Blake keluar dari ruang operasi, dia mengetahui bahwa Alya dirawat di rumah sakit dan segera bergegas ke kamar rawat.Lexa sedang berjaga di luar pintu. Ketika melihat Blake, Lexa pun menyapa dengan sopan, "Dokter Blake."Blake balas mengangguk sopan. "Di mana Alya?""Bu Alya ada di dalam, tapi ...."Belum sempat Lexa selesai bicara, Blake sudah mendorong pintu kamar rawat hingga terbuka ….Langkah Blake pun terhenti saat hendak masuk ke dalam.Di dalam kamar rawat, sosok Alya tampak membelakangi pintu sambil dipeluk oleh Emran yang bertubuh tinggi dan tegap.Emran mencium wanita dalam pelukannya dengan dominan, lalu sedikit membuka matanya dan melirik ke arah pintu.Emran dan Blake saling bertemu pandang.Emran sedikit mengangkat alisnya, sorot tatapa
Alya memejamkan matanya, bulu matanya yang basah oleh air mata bergetar hebat."Emran, demi anak ini, aku akan memberimu kesempatan lagi."Pupil mata Emran tampak gemetar. Dia segera bangkit berdiri, lalu menangkup wajah Alya dengan kedua tangannya dan mencium bibir wanita itu.Alya mengernyit dan mengangkat tangannya mendorong Emran menjauh.Emran melepaskan Alya, lalu mengernyit sambil menatap wanita itu dengan sedikit bingung. "Ada apa?""Aku belum selesai berbicara."Emran tertawa dan berkata, "Oke, katakan saja apa yang kamu inginkan. Aku akan menyetujui apa pun yang kamu katakan.""Perjanjian perceraian ini masih berlaku dan kamu harus menandatanganinya. Kalau kamu melanggar janji di kemudian hari, aku akan langsung menceraikanmu. Saat itu, anak-anak akan tinggal bersamaku dan kamu akan pergi tanpa apa pun.""Oke!" Emran mengangguk. "Aku akan tanda tangan. Kalau aku mengingkari janjiku, aku akan pergi tanpa apa pun dan mati dengan tragis …."Alya langsung membekap mulut Emran."N
Apa pernikahannya dengan Emran yang terus dilanda pertengkaran bisa benar-benar membaik?Alya tidak berani berharap."Emran, lepaskan aku. Aku harus pergi.""Nggak!" Emran balas memeluk Alya dengan erat, menolak untuk melepaskan wanita itu. "Tolong pikirkan lagi, Alya! Tolong pikirkan lagi, ya?"Alya mengulurkan tangan untuk mendorong Emran, tetapi pria itu menggenggam tangannya dengan erat.Emran menundukkan kepala dan mencium punggung tangan Alya dengan penuh hormat.Bibir Emran bergetar, air mata hangatnya menetes ke punggung tangan Alya.Bulu mata Alya bergetar dan dia perlahan membuka matanya.Alya menunduk dengan ekspresi tidak percaya.Emran mencium tangan Alya sambil berujar memohon dengan menangis, "Aku bersumpah, oke?"Emran mengangkat kepalanya, lalu mengangkat satu tangan dan bersumpah, "Aku bersumpah bahwa kalau aku berbuat salah padamu, menyakiti atau mengecewakanmu lagi, aku akan mati dengan tragis!"Pupil mata Alya sedikit bergetar.Emran yang dulunya angkuh itu kini be
Emran keluar dari kamar rawat.Lexa mengangguk kecil. "Pak Emran.""Dia minta kamu masuk.""Baik." Lexa mengangguk dan berbalik untuk berjalan masuk ke kamar rawat.Di dalam kamar rawat itu, Alya berdiri di dekat jendela.Lexa pun berjalan masuk. "Bu Alya.""Bantu aku pindah ke rumah sakit lain." Alya berbalik dan menatap Lexa lalu berkata, "Setelah operasi, aku mungkin perlu waktu pemulihan. Katakan saja pada semua orang kalau aku lagi pergi dinas."Lexa mengangguk. "Aku mengerti."...Ketika Lexa keluar dari kamar rawat, Emran masih berada di sana."Dia bilang apa padamu?"Lexa mengatupkan bibirnya sejenak. "Bu Alya memintaku memindahkannya ke rumah sakit lain."Emran sontak terkejut. "Dia benar-benar mantap nggak mempertahankan anak itu?"Lexa mengelus hidungnya dan mengangguk.Emran tidak mampu menahan diri lagi dan berbalik berjalan masuk ke kamar rawat."Alya, apa kamu benar-benar akan menggugurkan anak itu?"Alya hendak membawa pakaiannya ke kamar mandi untuk berganti pakaian ke







