LOGINLexa sontak terdiam dengan kaget.Dia meletakkan kemasan makanannya, lalu berdiri dan berjalan ke arah Alya. Lexa menatap perut atasannya, lalu mendongak menatap Alya. "Jangan bilang Bu Alya …."Alya berhenti mengusap perutnya.Lexa pun bertanya dengan lembut, "Kapan terakhir kali Bu Alya datang bulan?"Alya mengernyit. "Siklusku nggak pernah teratur …."Selama sekian tahun ini, siklus datang bulan Alya selalu mundur karena stres pekerjaan yang dia alami. Terkadang bisa mundur tujuh atau sampai delapan hari.Namun, sepertinya kali ini mundur lebih dari tujuh delapan hari ….Alya sontak menegang."Lexa." Alya menarik napas dalam-dalam, berusaha tetap tenang. "Tolong belikan itu buatku.""Oke!" Lexa mengangguk. "Aku akan segera pergi."...Di kamar mandi, Alya menatap alat tes kehamilan di tangannya.Dua garis merah. Begitu jelas dan kentara.Dia positif hamil.Alya perlahan mengangkat kepalanya dan melihat pantulan dirinya di cermin.Wajahnya tampak pucat, sorot tatapannya terlihat bing
Emran menatap ponselnya sepanjang hari.Dia berharap Alya akan meneleponnya duluan.Namun, Emran juga berharap wanita itu tidak akan meneleponnya.Kalau Emran tidak hadir besok, permohonan cerai mereka akan dianggap kadaluwarsa.Bukannya itu berarti mereka harus mendaftar ulang ….Emran diam-diam berharap Alya akan lupa!Sayangnya, Alya tidak lupa.Siang hari itu, Alya menelepon Emran."Aku punya waktu luang besok pagi, jadi ayo kita ke Kantor Catatan Sipil untuk mengambil surat cerainya."Emran memegang ponselnya dalam diam sejenak sebelum menjawab dengan suara rendah, "Oke.""Pastikan kamu membawa semua dokumenmu," kata Alya.Emran merasa dadanya seperti ditusuk jarum, rasa sakitnya terasa begitu tajam dan terus menghujam.Suara Emran jadi terdengar kaku. "Oke.""Ya sudah, begitu dulu."Alya menutup telepon.Emran mendengarkan nada sibuk di telepon, sorot tatapannya tampak sangat putus asa.Jefri mendorong pintu hingga terbuka dan masuk."Pak Emran, kami berhasil menghubungi Dokter B
Alya terdiam sejenak dan menarik napas dalam-dalam, lalu berkata, "Sedari awal, aku menikahimu semata-mata karena aku menganggapmu sebagai satu-satunya untukku."Emran sontak tertegun."Sekarang, aku ingin bercerai dan berpisah semata-mata karena kamulah pasanganku." Alya menatap mata Emran. "Kamu paham maksudku?"Semenjak Emran tiba di Tibona, pria itu selalu memimpin setiap langkah hidup Alya.Dari kunjungan pertama ke Tibona hingga mereka mendapatkan buku nikah, lalu malam pertama mereka. Dari kamar tidur hingga kehidupan sehari-hari Alya. Hanya dalam waktu dua bulan, Alya sudah tidak bisa menghitung lagi berapa kali dia mengalah.Apa hasil yang dia peroleh dari sikap mengalahnya?Sosok pria yang justru berulang kali menganggap dirinya paling benar.Alya tahu bahwa Emran sekarang kemungkinan sudah menaruh rasa padanya, tetapi itu bisa mengubah apa?Masalah di antara mereka adalah karena perbedaan visi dan nilai hidup, serta kepribadian yang saling bertolak belakang.Memaksa dua ora
"Emran, ayo kita bicara."Bulu mata Emran sontak bergetar.Intuisi prianya mengatakan bahwa sekarang bukan hari yang tepat untuk berbicara!"Aku belum sarapan," jawab Emran dengan nada polos. "Bisakah kamu mengurus kebutuhan makanan pasien terlebih dulu?"Alya terdiam sejenak, lalu berdiri dan berkata, "Oke."Dia pun berbalik dan pergi keluar untuk mengambil sarapan yang telah Jefri bawakan.Lalu, Alya menyiapkan meja makan kecil untuk Emran dan menyajikan sarapan pria itu. "Makanlah.""Kamu juga ikut makan," kata Emran."Aku sudah makan di rumah."Emran langsung mengernyit, "Kamu sudah makan? Kamu meninggalkanku, seorang pasien, di rumah sakit sementara kamu sarapan di rumah?""Bukannya Jefri yang membawakannya buatmu?" Alya mengernyit, ekspresinya menjadi agak tidak sabar. "Emran, kapan kamu akan berhenti? Aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk meladenimu dengan tenang."Emran melempar sendoknya. "Nona Alya benar-benar nggak adil! Kalau kamu memang nggak mau merawatku, kamu nggak pe
Alya mengiakan dengan acuh tak acuh, lalu melepas botol infus dan mengangkatnya. "Ayo pergi."Emran berbalik dan berjalan menuju kamar mandi.Setibanya di kamar mandi, Alya menggantungkan botol infus itu.Dia pun berbalik hendak pergi, tetapi tubuh Emran yang tinggi berdiri diam mengadangnya.Alya berhenti melangkah dan mengangkat pandangannya menatap Emran.Emran tersenyum. "Aku nggak bisa membuka celanaku dengan satu tangan, bisakah kamu membantuku?"Alya mengatupkan bibirnya erat-erat dan menarik napas dalam-dalam.Sedari tadi, dia terus menahan diri.Namun, sekarang Alya merasa benar-benar tidak tahan lagi."Emran, kamu pikir aku nggak bisa marah?"Emran sontak tertegun.Alya menatap Emran dengan ekspresi datar. "Aku bersedia merawatmu karena kamu terluka saat menyelamatkanku. Selain itu, aku juga nggak tahan melihat orang tuamu khawatir dan menderita berulang kali karena ulahmu. Ada berbagai macam alasan kenapa aku mau, tapi sama sekali nggak ada faktor karena aku peduli padamu. J
Blake meletakkan buah yang dia bawa ke atas meja di samping, lalu berbalik dan berjalan menghampiri Emran."Kamu memang melindungi Alya, tapi kamu menggunakan bantuanmu untuk mengikatnya secara moral. Perilaku seperti ini bisa dibilang licik.""Oh." Emran sama sekali tidak terpancing, dia malah mengangkat alisnya dengan angkuh. "Blake, Alya dan aku belum resmi bercerai. Kami sedang dalam masa tenang, jadi kami masih merupakan pasangan yang sah secara hukum."Blake balas tersenyum kecil. "Kamu nggak perlu menjelaskan semua ini padaku. Akan kukatakan sekali lagi, aku menghormati semua keputusan Alya.""Kamu pikir kamu siapa? Apa dia butuh rasa hormatmu?" Wajah Emran pun memerah, dia tidak lagi peduli untuk menjaga harga diri dan dengan blak-blakan berkata, "Blake, aku tahu apa yang kamu pikirkan, tapi aku belum mundur. Perilakumu saat ini sama saja seperti sedang merebut wanita orang milik lain!"Blake mengernyit. "Emran, kamu boleh mengatakan apa pun yang kamu mau, tapi tolong pikirkan







