--- Laura melangkah pelan ke dalam kafe yang sama, tempat ia sebelumnya berbicara dengan Farel. Kali ini, bukan Farel yang ditunggunya, melainkan Sukma. Ia sudah menyiapkan senyum manis, riasan yang tidak berlebihan tapi tetap memikat, serta sikap seolah-olah ia benar-benar peduli. Sukma datang dengan langkah cepat, wajahnya tegas, bibirnya kencang menahan emosi. Begitu melihat Laura, tatapannya langsung berubah tajam, dingin, bahkan penuh amarah. “Jadi kamu berani muncul juga sekarang, Laura?” suara Sukma rendah namun menusuk. Laura tetap duduk tenang, menyambutnya dengan senyum seolah tidak terusik oleh nada sinis itu. “Sukma… aku senang kau mau datang. Aku ingin… ya, kita bicara baik-baik.” Sukma menarik kursi dengan kasar, duduk sambil menatap lurus ke mata Laura. “Baik-baik? Setelah kau menghilang waktu aku sakit dan hilang ingatan? Setelah kau menjauh, seakan-akan aku ini sampah? Sekarang kau datang dengan wajah manis, seolah tidak pernah ada apa-apa?!” Nada bicaranya ker
Last Updated : 2025-08-18 Read more