flash back.Mereka putus bukan karena bosan. Mereka masih sering saling tatap di antara ciuman yang panas. Tapi… sesuatu mulai berubah setelah terlalu sering “menghangatkan” rasa yang seharusnya dibiarkan tumbuh dulu dari awal.Dinda pernah bilang:> “Edgar, kamu tahu nggak bedanya cinta sama kecanduan?”Edgar, menoleh.> “Yang satu bikin deg-degan… yang satu bikin nagih. Tapi dua-duanya bisa bikin nyesel.”Mereka ketemu pertama kali di kos Dinda, saat hujan turun dan listrik mati. lalu satu kasur yang dingin, lalu satu kecupan yang terlalu dalam untuk disebut iseng. Sejak malam itu, Edgar bukan Edgar yang polos lagi. Ia tumbuh—atau mungkin, terbakar.Minggu berganti, tubuh mereka saling hapal. Mereka bisa bercinta bahkan tanpa melepas seluruh pakaian. Bahkan ketika satu masih sibuk menelpon, satu lagi sudah mulai megang pinggang.Tapi...> “Edgar, kita nggak pernah ngobrol soal masa depan ya?”> “Maksudmu?”> “Kita cuma... ya gitu. Ketemu, mainan semangkaku, wik-wik, tidur. Ulang la
Terakhir Diperbarui : 2026-01-06 Baca selengkapnya