Pagi itu, hujan hanya menyisakan embun di daun mangga belakang rumah.Qalesya duduk di teras, laptop terbuka, buku catatan berserakan, dan satu gelas susu hangat yang sudah dingin karena lupa diminum.Judul di layar menyala pelan :[“Komitmen dalam Relasi Dewasa : Antara Pilihan, Luka, dan Kesadaran Bertahan.”]Qalesya menghela napas, lalu tersenyum kecil.“Judulnya berat amat ya, Nak,” gumamnya sambil mengelus perut yang mulai membulat.Ada gerakan kecil dari dalam, halus tapi nyata.“Tenang… Ibu juga lagi belajar kok.”Dari ruang kerja, Wafa muncul membawa beberapa lembar kertas kosong.“Kamu dari tadi diem aja. Nulis apa bengong, Sayang?”“Dua-duanya,” jawab Qalesya jujur. “Aku lagi stuck di bagian komitmen. Secara teori aku paham… tapi kok pas ditulis, rasanya kosong.”Wafa duduk di depannya. “Mungkin karena kamu kebanyakan baca buku, kurang ngelihat sekitar.”Qalesya mengangkat alis. “Maksudnya?”“Komitmen itu bukan cuma definisi,” kata Wafa pelan. “Tapi kebiasaan kecil yang diul
Last Updated : 2025-12-18 Read more