Udara malam belum juga menghangat. Alana masih duduk di bangku taman, kedua tangannya saling menggenggam erat di pangkuan. Napasnya mulai lebih teratur, tapi detak jantungnya masih menyimpan sisa kepanikan. Di jalan utama, semuanya nyata, semuanya biasa. Tapi pikirannya tidak.“Enggak aku ga bisa pulang sekarang. Aku nggak bisa ketemu dia dulu…”Ia sudah tak bisa berpura-pura bahwa apa yang terjadi barusan adalah kebetulan biasa. Studio itu, lukisan itu, wajah bingung Brian, semua itu terasa seperti serpihan mimpi buruk. Ia butuh jarak, ia butuh waktu, dan yang paling mendesak, ia butuh jawaban untuk pertanyaan yang perlahan tumbuh jadi ketakutan.Dalam keputusasaannya, tangannya merogoh saku jaket. Ia meraih ponsel, membuka layar, lalu berhenti sejenak. Nama-nama yang muncul di kontak malah membuat dadanya makin sesak. Riana, yang akhir-akhir ini sering terdengar menilai daripada mendengarkan. Leo, yang niat baiknya terasa seperti jaring yang menjebak dengan halus. Ia menggeser layar
Last Updated : 2025-08-03 Read more