Jam pertama berlalu dalam keheningan yang nyaris tak terganggu. Alana duduk di sofa besar yang nyaman, membolak-balik halaman majalah bisnis edisi terbaru yang sebenarnya tidak ia baca. Tatapannya kadang beralih ke arah Brian, yang sedang tenggelam dalam layar komputernya, lalu kembali ke halaman yang sama. Ia memainkan peran istri pendukung dengan begitu meyakinkan, senyumnya tipis, ekspresinya tenang, bahunya rileks. Tapi di balik ketenangan itu, pikirannya bekerja cepat, menimbang waktu, menyusun langkah berikutnya.Ponsel Brian bergetar di atas meja. Ia mengangkatnya, mendengar sejenak, lalu berdiri dari kursi. “Aku harus keluar sebentar, ada panggilan dari divisi legal,” katanya pada Alana. “Kita harus diskusi di ruang meeting, confidential.” “Oke….” Ujar alana singkat.Brian mengancingkan jas dan meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi.Begitu pintu tertutup, Alana tidak langsung bergerak. Ia menghitung perlahan dalam hati, memberi jeda agar suasana tetap alami. Lalu ia bang
Last Updated : 2025-07-31 Read more