Setelah Agnesia pergi dengan penuh luka dan kemarahan, suasana rumah masih terasa dingin. Tak ada yang berani bersuara, bahkan langkah para asisten rumah tangga pun nyaris tak terdengar. Adelia masih terduduk di sofa, wajahnya pucat dan matanya kosong. Nafasnya belum stabil, dadanya naik turun menahan gejolak perasaan yang sulit dijelaskan. Raka mendekatinya perlahan. Tanpa bicara, ia menggenggam tangan Adelia dan membawanya ke kamar. Tangannya hangat, sedikit gemetar, tapi menggenggam erat seolah tak ingin melepas. Di dalam kamar, Raka menyibak selimut dan membantu Adelia berbaring. Ia ikut berbaring di sampingnya, tak berkata-kata, hanya memeluk tubuh mungil Adelia dari belakang. Kehangatan tubuhnya menjadi satu-satunya pelipur di tengah badai yang baru saja melanda. “Tenanglah…” bisiknya lembut. “Aku di sini…” Adelia tak menjawab. Tapi pelan-pelan, tubuhnya mulai rileks. Ia menutup mata, membiarkan rasa aman itu menyusup ke dalam sunyi yang menyesakkan dadanya. Malam itu mere
Terakhir Diperbarui : 2025-07-28 Baca selengkapnya