Share

Bab 847

Penulis: Ayesha
Brielle menerima menu itu. Ujung jarinya sedikit menegang. Dia menunduk membalik halaman menu, sengaja menghindari keberadaan pria di sampingnya.

Brielle memesan dua hidangan ringan, lalu menyerahkan menu ke Raka. Raka mengambilnya dan menambahkan empat hidangan lagi. Semuanya juga yang ringan.

"Raka," panggil Madeline. "Bagaimana persiapan proyek sipil?"

"Sekarang semuanya ditangani penuh oleh Harvis. Semua urusan ditentukan olehnya," jawab Raka sambil mengangkat cangkir teh dan menyesapnya.

Ma
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (10)
goodnovel comment avatar
Siti Aminah
brie jangan balikan sm Raka apapun situasinya, sudah jelas perhatian Raka lebih besar ke Dev, sering abai ke brie, meski latarnya utang Budi tetep ga gentle, lebih pilih orang luar dibanding istri yg baik
goodnovel comment avatar
Dian Sgt
bener² authornya memperpanjang cerita supaya gak cepet habis ceritanya, jadi muter² yg ada juga bosen klo ceritanya gak ada kemajuan. drama tersanjung bisa tamat karena kehilangan penonton.
goodnovel comment avatar
Antono Kastani
secara emosi dan harta Raka selingkuh selalu ada u pelakor dan manjakan dan utamakan Davina dgn segala kemewahan rmh perusahaan saham
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1497

    Malam itu, Brielle menemani putrinya tidur. Anya yang berada dalam pelukannya sudah tertidur pulas, tetapi Brielle sama sekali belum mengantuk. Dia mengambil ponselnya, memasang earphone, lalu membuka video-video terbaru di aplikasi media sosial.Karena informasi yang diunggah masih sangat sedikit, belum ada berita lebih lanjut mengenai kebakaran tersebut. Brielle pun meletakkan ponselnya dan memejamkan mata untuk beristirahat.Keesokan paginya pukul delapan tepat, Raline datang menjemput Anya. Karena Brielle harus bekerja dan sekarang sedang libur musim panas, Keluarga Pramudita berinisiatif mengambil alih kegiatan Anya selama masa liburan.Melihat putrinya menggandeng tangan Raline dengan riang hendak keluar, Brielle berkata, "Raline, terima kasih."Raline tertegun sejenak, lalu tersenyum sambil mengatupkan bibir. "Kak Brielle, jangan sungkan. Di antara kita nggak perlu saling berterima kasih."Setelah berkata demimkian, dia menggandeng Anya dan pergi.Pukul tujuh malam, Brielle berg

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1496

    Dia tersenyum lalu lebih dulu berkata kepada putrinya, "Anya, malam ini Papa ada kerjaan yang harus diurus, jadi mungkin nggak bisa menemani kalian."Anya berkata dengan sedikit kecewa, "Kalau begitu, lain kali Papa bisa menginap di rumah kami?"Kali ini, giliran tatapan Raka beralih ke Brielle. Alisnya sedikit terangkat dan senyumnya seolah menyiratkan pertanyaan. Brielle berpura-pura tidak mendengarnya.....Sesampainya di depan rumah Brielle, tentu saja Raka tidak masuk karena harus bekerja."Papa, jangan kerja sampai terlalu malam ya!" ujar Anya penuh perhatian.Hati Raka terasa hangat. Dia mengusap lembut kepala kecil putrinya. "Iya, Papa tahu. Papa akan istirahat yang cukup."Saat itu, Gaga menyelinap keluar dari pintu dan langsung mengibas-ngibaskan ekornya ke arah Raka, seolah ingin ikut turun ke bawah bersamanya.Raka berkata kepada Brielle, "Aku bawa Gaga turun dulu."Brielle pun tidak bisa keberatan. Sekarang Gaga memang semakin suka ke rumah Raka. Entah merek makanan anjing

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1495

    "Besok kami juga akan pergi melihat sebuah vila. Biar nanti kami lebih mudah merawat Anya," kata Emily."Nenek, kalau Nenek memang lebih suka tinggal di sini, sebenarnya nggak perlu buru-buru pindah," ujar Brielle. Dia tahu Emily menyukai rumah-rumah tua yang penuh nilai sejarah.Emily langsung tersenyum. "Tentu harus pindah. Rumah seperti apa yang kusukai itu nggak penting. Yang penting, kami bisa lebih mudah merawat Anya."Hati Brielle terasa hangat. Dalam urusan Anya, Keluarga Pramudita memang tidak pernah sekali pun memperlakukannya dengan setengah hati.Meira kemudian meminta pelayan menyajikan buah potong. Setelah Brielle duduk dan mengobrol sebentar, dia pun mengajak putrinya pulang.Di perjalanan, Anya sedang asyik memainkan mainan kecilnya. Tiba-tiba, dia berkata dengan lantang, "Mama, aku mau cerita sesuatu."Hati Brielle langsung menegang. Dia sudah bisa menebak apa yang akan diceritakan putrinya."Aku dan Bibi Raline tadi ketemu Bibi Devina di arena berkuda. Bibi Devina ber

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1494

    Tangan Brielle yang berada di atas lututnya perlahan mengepal. Mungkin Anya belum benar-benar memahami ucapan Devina, tetapi dia pasti bisa merasakan kebencian yang tersirat di balik kata-kata itu."Mulai sekarang, tolong pastikan dia menghilang. Jangan biarkan dia menyakiti putriku lagi." Nada suara Brielle dipenuhi rasa muak yang tak lagi bisa disembunyikan.Raka membelokkan setir ke bahu jalan dan menghentikan mobil. Tatapannya yang penuh perhatian tertuju pada wajah Brielle."Maaf. Semua ini salahku. Aku janji, mulai sekarang dia nggak akan pernah muncul lagi di hadapan Anya ataupun di hadapanmu."Brielle memalingkan wajah dan tidak berkata apa-apa lagi. Putrinya adalah batas yang tidak boleh disentuh. Siapa pun yang menyakitinya, tidak akan pernah bisa dia maafkan.Suasana di dalam mobil seketika hening.Raka tidak langsung menjalankan mobil. Dia tahu semua ini berawal darinya. Rasa sakit yang dialami Brielle pun muncul karena dirinya."Maaf ... semua ini salahku." Suara Raka terd

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1493

    Brielle tentu merasakan tatapan yang terus tertuju padanya. Dia mengatupkan bibirnya sejenak, lalu kembali memusatkan perhatian pada pekerjaannya.Setengah jam kemudian, dia selesai memasukkan data sekaligus menyelesaikan laporannya. Dia mengembuskan napas pelan, menekan tombol simpan, lalu menutup laptopnya."Sudah selesai?" Raka segera berdiri dan berjalan ke sisinya menunggu.Brielle mengangguk sambil bangkit. "Restorannya sudah dipesan?""Sudah." Raka mengangguk. Dia membiarkan Brielle melangkah lebih dulu, baru kemudian mengikutinya.Kali ini Brielle pergi menggunakan mobil Raka. Dia sudah terlalu lelah untuk menyetir sendiri.Sepanjang perjalanan, mereka tidak banyak mengobrol, tetapi suasananya terasa begitu alami, seolah-olah selama bertahun-tahun ini mereka tidak pernah berpisah.Restoran yang mereka datangi adalah restoran barat dengan privasi yang sangat baik.Setelah memesan makanan, Raka pun mendongak dan bertanya dengan penuh perhatian, "Ada kendala apa di pekerjaanmu?"B

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1492

    "Bu Devina.""Aku ingin bertemu Raka!" teriak Devina ke arah telepon dengan nada tegas.Suara Gavin terdengar tenang dari seberang. "Kalau ada yang ingin disampaikan, beri tahu aku saja. Nanti akan kuteruskan kepada Pak Raka.""Aku bilang, aku ingin bertemu Raka." Devina menggertakkan giginya. "Kalau memang kontraknya diputus, setidaknya dia sendiri yang harus datang dan mengatakannya kepadaku. Aku masih punya sesuatu yang ingin kutanyakan padanya.""Bu Devina seharusnya tahu Pak Raka nggak ingin bertemu." Nada suara Gavin pun menjadi dingin."Gavin, kamu pikir kamu ini siapa? Kamu cuma penyampai pesan. Suruh Raka temui aku.""Kalau Bu Devina terus memaksakan diri seperti ini, yang rugi justru diri sendiri." Suara Gavin kini benar-benar dingin."Rugi? Menurutmu aku masih bisa kehilangan apa?" Devina tertawa sinis, lalu menyampaikan tuntutannya. "Aku mau Raka kasih aku uang kompensasi sebesar 20 miliar. Kalau nggak, aku nggak akan tinggal diam."Tanpa memberi Gavin kesempatan berbicara

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 441

    "Itu karena timmu bekerja dengan sangat baik," kata Brielle sambil menerima secangkir kopi. "Begitu pekerjaan penutupan selesai, aku juga harus kembali."Frans mengangguk memahami. Dia tahu tidak bisa terus menahan waktu Brielle di pangkalan. "Aku akan minta Niro mengatur kepulangan kalian ke Kota A

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 423

    Tatapan Brielle menjadi dingin. "Aku sangat sibuk, nggak ada waktu buat berdebat sama kamu. Minggir."Faye menyeringai sinis. "Kamu serius mau menyerahkan kesempatan itu padaku atau sebenarnya kamu sendiri nggak yakin bisa melakukannya? Kamu tahu, yang akan datang nanti itu semua tokoh besar dunia r

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 416

    "Kamu mau benar-benar memutus semua hubungan antara aku dan putriku?" Raka menatap dengan tatapan tajam. Dia berjarak tiga langkah dari Brielle, pandangannya terkunci pada Brielle.Memang itulah tujuan akhir yang ingin dicapai Brielle. Membuat putrinya terlepas dari Raka dan berhenti bergantung pada

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 367

    Raka menatap mata Brielle yang keras kepala, terdiam sejenak. Udara di antara mereka seolah-olah membeku. Setelah beberapa saat, Raka baru berkata, "Baiklah. Kalau kamu merasa nggak masalah, terserah kamu."Langkah Raka menuju pintu tak berhenti. Hanya saja, dia kembali menambahkan tanpa menoleh, "S

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status