Raline membalas.[ Oh ya? Kalau begitu, perusahaannya seharusnya sudah melewati masa sulit. ][ Seharusnya sudah baik-baik saja. Aku dengar dari Jay, kakakmu banyak membantunya. Raline, ini kabar baik. ]Devina mengirim pesan lagi, dengan nada yang mengandung isyarat.Raline memahami maksud tersiratnya. Sekilas kepahitan melintas di matanya. Siapa yang tahu, putri Keluarga Pramudita yang dulu begitu bebas dan percaya diri, kini satu-satunya harapannya adalah memiliki tubuh yang sehat?[ Entahlah, Kak Devina. Aku agak lelah, lain kali kita lanjutkan. ][ Oke, kapan-kapan kita janjian lagi. ]Devina membalas demikian.Raline mematikan layar ponselnya dan tidak berniat membalas lagi. Saat ini, bekas pengambilan darahnya masih terasa sakit. Tadi dia diambil enam tabung darah sekaligus, sekarang kepalanya terasa pusing."Bu, aku antar ke sana untuk istirahat ya. Nanti kami akan mengantarkan makanan juga," ujar perawat yang datang menghampiri."Terima kasih." Raline mengangguk. Saat ini, dia
อ่านเพิ่มเติม