Napas Karyo putus-putus. “Aku rindu kamu yang dulu, Mas,” kena langsung di bawah pusarnya. Badannya bereaksi. Bukan pelan. Seketika panas. Maya maju, menempel. Bibir ketemu bibir, basah, lidahnya masuk duluan. Ciumannya nggak manis—lapar. Karyo membalas. Tangan kirinya memegang pinggang Maya, tangan kanan naik ke sisi payudara, jempol menyapu puting dari balik kaos longgar. Keras. Maya mengerang pendek di mulutnya. “Mas…” suaranya pecah, matanya liar. Karyo menggeser posisi, memastikan perutnya aman, lalu menarik kaosnya ke atas. Puting cokelatnya muncul, membesar, kulit payudara tegang karena hamil. Karyo langsung menunduk, menghisap. Maya menggenggam rambutnya, mendorong, minta lebih. “Jangan terlalu keras,” ia mengingatkan, tapi pinggulnya justru mencari. Di bawah sana Irwan mungkin lagi duduk di sofa. Pikiran itu lewat sebentar, mal
Last Updated : 2025-12-28 Read more