Ciuman yang datang tiba-tiba itu membuat Lucien terkejut seketika.Keterampilan ciumannya wanita itu sangat buruk, tetapi hanya dengan itu saja, dia tak mampu menahan gelora yang bangkit dalam dirinya.Dan tanpa sadar, dia rela tenggelam dalam perasaan itu.Detik berikutnya, Lucien mengambil alih kendali, merangkulnya sepenuhnya ke dalam pelukan, lengan panjangnya melingkari pinggang Shanaya, dan tanpa menunggu izin, ciumannya makin dalam.Di antara tarikan napasnya, tercium aroma cendana yang lembut. Shanaya sejenak tak bisa menahan diri untuk berpikir, andai waktu bisa berhenti tepat di saat ini.Betapa indahnya jika semua hal bisa membeku hanya di momen ini.Angin malam berhembus lembut, Shanaya tiba-tiba tersadar. Dengan sigap, dia melepaskan diri dari pelukan pria itu, menolak tenggelam lebih jauh, dan menarik napas cepat, berusaha keras memulihkan akal sehatnya.Dia menarik napas panjang, lalu tersenyum sambil berkata, "Pak Lucien, keinginan Anda tidak berguna. Aku tidak pernah p
Read more