“Puspa, lepaskan dia.” Suara Indra terdengar rendah, tapi tajam.Puspa nggak buang waktu untuk berdebat, matanya dingin seperti pisau.“Balikin kertas itu ke aku,” katanya tajam.Sonya gemetar ketakutan. Ia nangis, menjerit pelan, tapi nggak berani lawan. Ketakutan itu sudah tertanam dalam dirinya selama bertahun-tahun, rasa gentar yang buat dia nggak berani menatap mata Puspa.Indra mengerutkan kening, akhirnya serahkan bon pembayaran itu. Puspa langsung rebut itu, lalu dorong Sonya ke pelukannya.“Bawa perempuanmu ini, dan minggir dari hadapanku!”Indra langsung pegangi Sonya di dalam pelukannya. Perempuan itu masih meringkuk ketakutan, tubuhnya gemetar hebat, pandangannya nggak lepas dari Puspa yang tampak dingin dan nggak berperasaan.Puspa bahkan nggak noleh lagi. Ia berbalik, bawa nota itu ke loket pembayaran.Nggak lama kemudian, ia kembali dengan satu kantong plastik berisi obat antibiotik.“Evan,” katanya pelan, baru hendak panggil, namun langkahnya terhenti. Indra berdiri di
Read more