Napas Alvian memburu, dipenuhi gairah yang makin diberi makan makin menjadi-jadi. Di matanya, Ana bagaikan santapan paling menggiurkan yang tersaji tepat di depan mata. "Jangan mau rugi, lu kan bayar!" Kalimat itu terus terngiang, menjadi mantra yang mendorong kewarasannya semakin jauh. Ya, kalau pun kesannya di mata Ana hancur… peduli apa? Yang penting dendamnya terbayar. Yang penting dirinya puas. Genggamannya pada lengan Ana semakin kuat. Gadis itu meronta, tubuhnya bergetar hebat mencoba melepaskan diri. Ia menjerit sampai suaranya nyaris habis, namun Alvian tak kunjung tersadar. Air mata Ana jatuh—deras. “Tuan, saya mohon… jangan…” “Saya nggak mau!” “Lepaskan saya!” Kalimat-kalimat itu seharusnya bisa menggugah siapa pun, kecuali seorang Alvian yang saat itu sudah tenggelam dalam nafsu dan amarah. Begitu Ana terpegang, Alvian menarik wajah gadis itu dan memaksa melumat bibir mungil yang sedari tadi berusaha menghindar. “Rasanya manis…” bisiknya, seakan membenarkan kegila
Last Updated : 2025-11-23 Read more