Share

Bertahan

Author: Olivia
last update publish date: 2026-05-24 23:53:39

Sevi langsung berdiri dari lantai dapur walau tubuhnya sempoyongan. Tangannya gemetar hebat sampai beberapa kali harus berpegangan pada meja makan kecil di sampingnya agar tidak jatuh. Napasnya memburu, dadanya masih terasa nyeri dan berat.

Pikirannya kacau. Yang ada di kepalanya sekarang hanya satu, takut.

Ia berjalan cepat menuju lemari kecil dekat televisi, lalu membuka lacinya dengan kasar. Berbagai barang langsung berantakan keluar.

Obat-obatan, charger, buku catatan, sampai beberapa paka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bos, Jangan di Sini!   Tahan, Lan.

    Pak Jaenul baru meninggalkan area produksi menjelang sore. Begitu mobilnya keluar dari gerbang pabrik, Dito mengembuskan napas panjang."Akhirnya kelar juga."Bagas yang masih memegang kamera segera mematikan mode perekaman."Udah cukup ini, video lengkap. Mukanya juga jelas."Maya mengangguk sambil kembali mengecek hasil rekaman. "Jangan sampai ada yang hilang. Backup sekarang ya gas."Tanpa menunggu lama, seluruh rekaman langsung dipindahkan ke dua perangkat berbeda. Maya bahkan mengunggah salinannya ke penyimpanan daring yang hanya bisa diakses oleh dirinya dan Arlan."Kalau kenapa-kenapa sama satu file, masih ada cadangan."Dito mengangguk. "Bagus, nggak boleh selip ini mah."Tak lama kemudian ponsel Maya bergetar, itu pesan dari Arlan."Langsung ke ruanganku. Jangan ngobrol di luar."\\\Beberapa puluh menit kemudian, keempat orang itu sudah berkumpul di ruang kerja Arlan. Pintu ditutup rapat, pun tirai jendela ikut ditarik.Arlan berdiri di depan meja kerjanya dengan kedua tanga

  • Bos, Jangan di Sini!   Mengubah Takaran

    Minggu siang biasanya menjadi waktu paling lengang di area produksi. Sebagian besar mesin tetap beroperasi, tetapi hanya ditangani oleh tim yang mendapat giliran shift.Lorong-lorong pabrik terlihat lebih sepi dibanding hari kerja. Suara mesin pengolah susu justru terdengar lebih jelas karena minimnya aktivitas para karyawan.Di sisi lain gedung, Maya, Bagas, dan Dito masih menjalankan tugas yang diberikan Arlan. Mereka bergantian mengawasi agar tidak menarik perhatian."Masih di dalam?" bisik Bagas.Dito mengangguk. "Belum keluar, malah masuk lebih dalem."Maya mengangkat kamera kecil yang sedari tadi ia gunakan. "Jangan terlalu deket, aku takut ada CCTV yang ngerekam kita.""Tenang, ini masih jarak aman."Ketiganya berpencar beberapa meter agar tidak terlihat bergerombol. Tak lama kemudian... Pak Jaenul muncul di balik pintu ruang produksi.Pria itu mengenakan jas laboratorium putih lengkap dengan masker dan penutup kepala seperti prosedur standar di area steril. Namun yang membuat

  • Bos, Jangan di Sini!   Apa itu Hari Libur?

    Pagi di rumah utama dimulai dengan suasana yang jauh lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir. Sevi sudah lebih dulu bangun membantu Mama menyiapkan sarapan. Dari dapur terdengar suara obrolan ringan diselingi tawa kecil. Aroma bawang putih yang ditumis bercampur dengan wangi kopi yang baru diseduh memenuhi hampir seluruh rumah."Sev, telurnya jangan kelamaan.""Iya, Ma.""Kalau gosong nanti Arlan ngambek."Sevi terkekeh. "Dia mah dikasih apa aja dimakan.""Heh, jangan fitnah calon suamimu." Suara Arlan terdengar dari ruang makan.Rambutnya masih sedikit berantakan, kaus rumahan yang dipakai membuatnya terlihat jauh lebih santai dibanding saat mengenakan jas di kantor.Mama langsung meliriknya. "Loh, bos besar udah bangun.""Iya Ma, laper.""Dasar."Ayah yang sedang membaca koran hanya menggeleng pelan melihat tingkah anaknya. "Dari kecil juga gitu, bangun-bangun nyarinya makan."Arlan menarik kursi sambil tertawa. "Kan energi harus diisi dulu.""Alasan."Sevi meletakkan sepirin

  • Bos, Jangan di Sini!   Batas

    Suasana ruang keluarga kembali tenang. Angin sore masuk melalui jendela yang sedikit terbuka. Aroma teh hangat yang baru diseduh Mama memenuhi ruangan, membuat percakapan terasa lebih santai dibanding semalam.Ayah Arlan meletakkan cangkirnya di atas meja. "Lan.""Iya, Pa.""Kamu tahu kenapa Papa nggak pernah terlalu ikut campur urusan kantor kamu?"Arlan mengangguk pelan. "Karena Papa pengen aku belajar.""Bukan cuma itu." Ayahnya tersenyum tipis. "Karena itu memang perusahaan yang sekarang kamu pimpin, kalau Papa terus yang turun tangan, kapan kamu bisa ambil keputusan sendiri?"Arlan hanya mengangguk memahami. "Tapi..." Ayahnya melanjutkan. "Ada batasnya."Kalimat itu membuat Arlan kembali fokus."Selama Wijaya masih ngomong sebagai investor, masih ngasih masukan, atau sekadar beda pendapat. Hadapi sendiri, itu emang bagian dari pekerjaan."Arlan mengangguk. "Iya.""Nah..." Ayahnya mencondongkan badan sedikit. "Begitu dia mulai masuk ke ranah pribadi perusahaan... ngatur-ngatur or

  • Bos, Jangan di Sini!   Minta Maaf

    Perjalanan menuju rumah utama ditempuh hampir satu jam. Mobil Arlan melaju lebih santai dibanding biasanya. Jalanan akhir pekan memang tidak sepadat hari kerja, membuat perjalanan terasa lebih ringan. Sevi yang duduk di kursi penumpang sesekali membuka ponselnya, memastikan tidak ada pesan baru dari Bima."Udah dibales?" tanya Arlan sambil tetap fokus menyetir."Udah.""Gimana Sonya?""Bima bilang udah tidur lagi. Kondisinya juga lebih tenang."Arlan mengembuskan napas lega. "Syukurlah. Tapi tetap harus dibawa ke dokter.""Iya.""Semoga aja dia mau."Sevi mematikan layar ponselnya. "Aku nggak bakal maksa, trauma orang beda-beda. Kalau dipaksa sekarang, bisa jadi malah makin nutup diri."Arlan mengangguk pelan. "Iya juga."Beberapa menit kemudian suasana kembali hening. Lagu dari radio mobil mengalun pelan menemani perjalanan. Tak lama kemudian, gerbang rumah utama mulai terlihat.Mobil perlahan masuk ke halaman. Belum sempat mereka turun, pintu rumah sudah terbuka.Mama Arlan terseny

  • Bos, Jangan di Sini!   Ragu

    Selesai sarapan, suasana apartemen kembali tenang. Sevi melirik jam di dinding, lalu menoleh ke arah Sonya."Yuk, udah waktunya."Sonya mengangguk pelan. "Iya."Keduanya kemudian masuk ke kamar tamu sambil membawa pompa ASI dan perlengkapan yang sudah disiapkan sejak pagi.Pintu kamar pun tertutup. Di luar, hanya tersisa Arlan dan Bima. Mereka duduk berdampingan di sofa ruang tamu.Tidak banyak yang dibicarakan. Sesekali hanya terdengar suara kendaraan dari jalan raya yang masuk melalui pintu balkon yang sengaja dibuka.Angin pagi berembus pelan. Membawa aroma khas kota yang mulai beranjak menuju siang.Bima memandang ke luar. "Capek ya."Arlan tersenyum tipis. "Banget, kayak hidup nggak dikasih jeda.""Paham banget bang. Ntar satu masalah selesai...muncul lagi yang lain."Arlan hanya mengangguk pelan. Belum sempat percakapan mereka berlanjut,"Aah!" Terdengar pekikan dari dalam kamar.Suara itu cukup keras hingga membuat keduanya langsung berdiri bersamaan. Mereka berlari menuju pint

  • Bos, Jangan di Sini!   Mulai Tertarik

    Suasana kantor malam itu begitu sunyi. Hanya dengungan pendingin ruangan dan bunyi jarum jam dinding yang sesekali terdengar. Lampu neon berpendar dingin, memantulkan cahaya putih pucat ke meja-meja kerja yang sebagian besar sudah kosong.Sevi masih duduk di balik meja, menatap layar komputer denga

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Bos, Jangan di Sini!   Tangisan Bersama

    Malam turun tanpa suara ketika mobil Arlan berhenti di depan kontrakan kecil milik Sevi. Tidak ada percakapan sejak kalimat terakhir yang diucapkan Sevi di dalam mobil. Kalimat yang menyinggung masa lalu Arlan dengan Alya itu masih terngiang di kepala keduanya. Sevi turun tanpa menoleh lagi. Pintu

    last updateLast Updated : 2026-04-05
  • Bos, Jangan di Sini!   Makin Overthinking

    Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya bagi Sevi.Sejak pagi pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Ia sudah berusaha bekerja seperti biasa dengan membuka dokumen, membalas beberapa email, membaca laporan yang menumpuk di mejanya. Namun setiap beberapa menit sekali, fokusnya selalu pecah.

    last updateLast Updated : 2026-04-05
  • Bos, Jangan di Sini!   Belalai

    Pagi datang lebih lambat bagi Arlan dan Sevi.Matahari sebenarnya sudah cukup tinggi ketika sinarnya menembus tirai kamar. Namun di atas ranjang itu, keduanya masih enggan bergerak. Tubuh mereka terasa lelah setelah hari yang panjang kemarin, tetapi bukan hanya karena kelelahan fisik.Mereka hanya

    last updateLast Updated : 2026-04-05
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status