Partager

Diam-diam

Auteur: Olivia
last update Date de publication: 2026-05-29 23:17:53

Malam di apartemen terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Tidak ada suara televisi, atau candaan receh Arlan yang biasanya memenuhi ruang tengah.

Bahkan suara notifikasi ponsel pun hampir tidak terdengar karena sejak sampai tadi, Arlan memilih membalik ponselnya begitu saja di atas meja.

Ia terlihat benar-benar lelah. Bukan hanya fisiknya, tapi juga pikirannya.

Sevi memperhatikan pria itu diam-diam dari dapur kecil apartemen sambil menuangkan sup hangat ke mangkuk. Tatapannya perlahan melu
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Bos, Jangan di Sini!   Pagi yang Tidak Tenang

    Aroma nasi goreng dan bawang putih yang ditumis memenuhi ruang makan rumah utama pagi itu. Untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu terakhir yang penuh kekacauan, suasana pagi terasa sedikit lebih normal bagi Sevi dan Arlan.Walau hanya sedikit sih.Sevi duduk di kursi sebelah Arlan sambil sesekali meniup teh hangatnya. Wajahnya masih terlihat pucat, namun jauh lebih baik dibanding kemarin malam. Setidaknya rasa nyeri itu sudah sedikit mereda setelah Arlan membantunya semalaman.Sedangkan Arlan sendiri terlihat jauh lebih segar setelah akhirnya tidur cukup lama. Walau tetap saja, kantung matanya masih menunjukkan kalau kepalanya belum benar-benar beristirahat.“Mama bilang kamu kurusan.”Papa Arlan membuka percakapan sambil melipat koran pagi.Arlan langsung mendelik kecil. “Mama tuh tiap lihat aku pasti bilang kurusan.”“Memang kurus,” sahut Mama Arlan santai sambil menuangkan sambal ke piring Sevi. “Pipi kamu tuh udah nggak ada isinya.”Sevi menahan tawa kecil melihat Arlan lan

  • Bos, Jangan di Sini!   Melelahkan

    Pintu apartemen akhirnya tertutup tepat sekitar pukul sebelas malam. Sunyi langsung mengambil alih ruangan yang sejak tadi penuh suara obrolan keluarga.Arlan mengembuskan napas panjang sambil menyandarkan punggungnya ke pintu.“Capek banget…”Sevi yang berdiri tak jauh darinya ikut tertawa kecil, meski wajahnya jelas terlihat lelah.Hari itu benar-benar terasa panjang. Mulai dari kantor yang masih kacau karena masalah zat pada susu distribusi, dokter Raka yang memberi penjelasan setengah menenangkan setengah menakutkan, lalu mendadak kedua orang tua mereka datang tanpa aba-aba.Untung saja Papa dan Mama Arlan memutuskan menginap di rumah utama. Kalau tidak, Sevi tidak tahu harus bagaimana menyembunyikan keadaannya semalaman.Walau bisa saja meminta bantuan Arlan, tapi ia merasa malu dengan keadaan orang tua nya satu atap ketika ia sedang seperti itu.“Kamu nggak bilang mereka buat nginep sini aja?” tanya Sevi pelan sambil membuka cardigan yang sedari tadi menempel di tubuhnya.Arlan

  • Bos, Jangan di Sini!   Menahan Diri

    Langit Jakarta sudah benar-benar gelap ketika mobil Arlan akhirnya memasuki area apartemen. Hari itu terasa sangat panjang.Kepala Arlan masih dipenuhi laporan zat bermasalah dari lini susu Om Wijaya, sementara tubuh Sevi terasa semakin tidak nyaman sejak siang tadi. Dada kirinya terus berdenyut nyeri seperti ditekan sesuatu dari dalam, namun ia tetap diam.Sedari tadi Sevi hanya menyandarkan kepala ke jendela mobil sambil memejamkan mata. Tangannya beberapa kali merapatkan cardigan cream yang ia pakai, berusaha menutupi bagian dada yang mulai terasa lembap.Arlan melirik sekilas. “Nyeri lagi ya sayang?”Sevi langsung menggeleng kecil. “Nggak kok.”“Kamu pucet.”“Capek aja.”Padahal bukan hanya capek. Bra yang ia kenakan mulai terasa basah sedikit demi sedikit.Sevi menelan ludah pelan, ia takut. Ucapan dokter Raka tadi siang terus terngiang di kepalanya.“Yang paling rawan justru orang yang sering terpapar dalam jumlah kecil tapi rutin.”Dan dirinya adalah tester utama produk susu it

  • Bos, Jangan di Sini!   Orang yang Paling Banyak Mencoba

    Pagi itu Sevi terbangun dengan napas pelan yang masih berat karena kantuk. Kelopak matanya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya sadar akan sesuatu yang hangat di bagian dadanya. Ada tekanan lembut yang bergerak perlahan, membuat rasa nyeri yang tadi mengganggu perlahan mereda. “Hmm…” Sevi mengerjap pelan.Pandangan buramnya perlahan menangkap sosok Arlan yang sedang tidur agak ke bawah. Rambut pria itu sedikit acak-acakan, kaus hitamnya kusut karena tidur, sementara kedua tangannya sibuk memijat pelan dan mengulum sisi dada Sevi di balik kain piyama longgar perempuan itu.Begitu sadar Sevi terbangun, Arlan langsung mengangkat wajah.“Udwah Bangwun (Udah Bangun)?” Suaranya tertutup oleh kuluman pada dada Sevi.Sevi langsung salah tingkah.“Heh, ngapain…”“Kamu rembes lagi, sayang kalau nggak diminum.”Barulah Sevi sadar bagian depan bajunya memang terasa sedikit basah.Arlan akhirnya bangun, lalu bersandar di ranjang. Ia menghela napas kecil sambil kembali memijat pelan dengan hat

  • Bos, Jangan di Sini!   Diam-diam

    Malam di apartemen terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Tidak ada suara televisi, atau candaan receh Arlan yang biasanya memenuhi ruang tengah.Bahkan suara notifikasi ponsel pun hampir tidak terdengar karena sejak sampai tadi, Arlan memilih membalik ponselnya begitu saja di atas meja.Ia terlihat benar-benar lelah. Bukan hanya fisiknya, tapi juga pikirannya.Sevi memperhatikan pria itu diam-diam dari dapur kecil apartemen sambil menuangkan sup hangat ke mangkuk. Tatapannya perlahan melunak.Arlan sedang duduk di sofa dengan kepala tersandar ke belakang dan mata terpejam. Dasi kantornya sudah entah dilempar ke mana, dua kancing atas kemejanya terbuka, sementara lengan bajunya tergulung asal sampai siku.Suara helaan nafas berulangkali terdengar, kini ia terlihat sangat rapuh.“Huff..”Sevi jarang sekali melihat Arlan serapuh ini. Biasanya pria itu selalu terlihat kuat di depan siapa pun. Seolah semua masalah bisa ia hadapi sendiri. Tapi akhir-akhir ini, bahu Arlan seperti mulai

  • Bos, Jangan di Sini!   Mendapat Ancaman

    “Kalau mau perusahaan kamu tetap berdiri… berhenti cari tahu soal Pak Damar.”Suara di seberang telepon terdengar berat dan ditahan-tahan, seperti seseorang yang sengaja mengubah nada bicaranya agar tidak dikenali. Namun ancamannya terasa nyata.Rahang Arlan langsung mengeras. Tatapan matanya berubah dingin dalam hitungan detik sampai Sevi yang duduk di sampingnya ikut menegang melihat perubahan ekspresi pria itu.“Siapa ini?” tanya Arlan pelan.Tidak ada jawaban. Hanya suara napas samar. Lalu,Tut.Telepon langsung dimatikan sepihak.Beberapa detik suasana di dalam mobil benar-benar sunyi.Sevi memperhatikan Arlan yang masih menatap layar ponselnya tanpa bergerak. Jemari pria itu perlahan mengepal kuat di setir mobil.“Lan…”Arlan mengusap wajahnya kasar. “Anjing...”“Ada apa?”Arlan terdiam sesaat sebelum akhirnya menoleh ke arah Sevi. “Tadi ada yang ngancem.”Deg.Jantung Sevi langsung terasa jatuh.“Ngancem gimana?”“Mereka nyuruh aku berhenti nyari soal Pak Damar.”Wajah Sevi pe

  • Bos, Jangan di Sini!   Hubungan yang Merenggang

    Mila berdiri di depan cermin kamar mandi kantor, menatap bayangannya sendiri. Mata itu tampak lelah, bukan karena kurang tidur, melainkan karena terlalu banyak menahan. Sejak beberapa hari terakhir, ia sengaja menjaga jarak dari Sevi. Bukan sekali dua kali Sevi menyapanya di pantry, di lorong, bah

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-31
  • Bos, Jangan di Sini!   Gangguan dikala Romantis

    Malam itu, setelah Arlan pulang dari rumah orang tuanya, udara di sekitar kontrakan Sevi terasa tenang dan hangat. Lampu di dapur menyala redup, menerangi meja kecil yang kini dipenuhi beberapa bahan masakan sederhana, bawang merah, cabai, daun bawang, dan satu ikat sawi segar. Sevi duduk di kursi,

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-21
  • Bos, Jangan di Sini!   Mulai Tertarik

    Suasana kantor malam itu begitu sunyi. Hanya dengungan pendingin ruangan dan bunyi jarum jam dinding yang sesekali terdengar. Lampu neon berpendar dingin, memantulkan cahaya putih pucat ke meja-meja kerja yang sebagian besar sudah kosong.Sevi masih duduk di balik meja, menatap layar komputer denga

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-17
  • Bos, Jangan di Sini!   Special Valentine

    Sore itu suasana kantor terasa berbeda. Entah kenapa, hampir semua karyawan tampak bersemangat membereskan meja masing-masing. Biasanya masih ada yang santai mengobrol atau menunda pulang, tapi hari ini jam menunjukkan pukul lima lewat sedikit saja, ruangan sudah mulai lengang. Sevi yang sedang men

    last updateDernière mise à jour : 2026-04-02
Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status