LOGINPagi itu dimulai dengan keributan kecil yang bikin Arka terus melirik jam dinding, kali kelima dalam dua menit. Azka duduk di tepi ranjang, seragam TK sudah rapi, tas sudah nyangkut di pundak, tapi wajahnya tetap muram, muram kayak bilang, “Aku nggak akan keluar rumah kalau Mama Akira nggak yang nganterin.” “Azka,” suara Arka bergetar sabar, “Papa telat, ya.” Azka menggeleng kuat. “Azka mau Mama Akira yang antar.” Arka mencoba meyakinkan. “Papa bisa kok.” “Nggak mau,” jawab Azka dengan nada yang sama tegasnya. Napas Arka pelan-pelan meluncur panjang, rasa capeknya bukan main. Jauh lebih melelahkan daripada rapat panjang di fakultas. Dengan berat hati, dia meraih ponsel dan memanggil satu nama yang sebenarnya ingin ia hindari pagi-pagi. Nada sambung berdering. Satu... dua... “Halo?” suara Akira terdengar berat, masih beratkan kantuk. “Maaf,” Arka buru-buru bilang, “Aku... butuh bantuan.” Di ujung sana, Akira terdiam sesaat lalu tertawa pelan. “Azka?” “Ngambek.”
Kehadiran Oma dan Opa membuat rumah itu terasa berbeda, tak sekadar penuh oleh tubuh, tapi oleh beban yang tak bisa dilukiskan dengan kata. Azka duduk di karpet ruang tamu, memeluk erat mainan kesayangannya seolah itu satu-satunya pelindungnya dari kekosongan. Mata Oma tak lepas menatap Azka, ada kerutan halus yang berusaha menyembunyikan kecemasan yang mendalam. Di kursi tunggal, Opa duduk dengan punggung tegak, matanya mengelilingi ruangan penuh keheningan, seolah menimbang kembali segala sesuatu yang dulu ia yakini dengan pasti. Di dekat dapur, Akira berdiri kaku, tangannya terus mengatur gelas-gelas yang sudah rapi, seperti berusaha mengalihkan pikirannya dari kebingungan. Ia gelisah, tak tahu harus duduk di mana, atau apa perannya dalam suasana yang membebani itu. “Azka,” suara Oma lirih memecah keheningan, “kamu sudah minum obat?” Azka mengangguk cepat, bibirnya sedikit gemetar, “Udah. Papa yang ingetin.” Oma melirik Arka, “Bagus.” Suasana kembali sunyi, berat, s
Hari kepulangan Azka dari rumah sakit datang bersama langit cerah yang terasa terlalu bersahabat untuk hari yang penuh kegelisahan. Akira berdiri membeku di depan pagar besi hitam rumah Arka, matanya terpaku seolah menatap soal ujian esai paling rumit dalam hidupnya. Tangannya menggenggam tali tas dengan sangat kuat sampai jemarinya memutih. “Tarik napas,” bisiknya pelan, dada naik turun berusaha menenangkan diri. “Ini cuma… rumah dosen.” Tapi di dalam hatinya, seribu tanya berputar, dosen yang anaknya memanggilnya Mama, orang tua yang menentang, dan kisah hidup yang jungkir balik. Pintu terbuka perlahan. Arka muncul dengan kemeja santai dan senyum yang, untuk pertama kalinya, tak lagi terasa mengintimidasi. “Masuk,” suaranya singkat, namun hangat menusuk ke relung hati. Akira mengangguk tergesa, hampir menabrak kusen pintu saking gugupnya. Di ruang tamu, Azka duduk bersandar di sofa, memeluk bantal besar di pangkuannya. Wajahnya cerah meskipun mata masih menunjukkan b
Pagi itu, Akira membuka kedua matanya dengan kepala yang terasa lebih ringan dari biasanya. Bukan karena semua masalahnya lenyap tapi malah sebaliknya, untuk pertama kalinya ia berhenti berlari dari kenyataan yang selama ini membuatnya lelah. Sinar matahari lembut menyelinap lewat jendela kos, menari-nari di lantai, hangat dan jujur tanpa basa-basi. Akira duduk di tepi ranjang, peluk lututnya erat sambil mengingat percakapan semalam yang terus terngiang di kepala. “Aku memilihmu.” Kalimat itu berulang-ulang jelas, tapi kali ini ia tak lagi ingin menguliti atau mencari celah keraguan. Ada kelegaan aneh yang merayap masuk. Ia menoleh ke meja, mengambil ponsel yang bergetar di sana. Satu pesan belum dibuka. Naya: "Kita di bawah kos." "Jangan pura-pura tidur." "Ini darurat… tapi versi kita." Akira tersenyum tipis, lalu melangkah keluar. Di halaman kos, Naya dan Lintang berdiri dengan dua gelas kopi take away di tangan. Tatapan mereka serius, tapi ada harapan di sana. “Kita butu
Hujan rintik mulai turun sejak sore, tapi tak ada suara gemuruh yang mengiringinya. Tetes-tetes kecil itu jatuh pelan, seperti keraguan yang perlahan menumpuk di dada Arka. Ia berdiri terpaku di depan jendela ruang rawat Azka, matanya menelusuri lampu-lampu kota yang buram tersapu air. Azka sudah tertidur sejak sejam lalu, napasnya teratur, wajahnya terlihat tenang. Tapi justru kedamaian itu yang membuat dada Arka sesak, mengaduk gelisah yang sulit dijinakkan. Ia tahu, waktu untuk menunggu sudah hampir habis. Arka mengambil ponselnya lagi. Pesan terakhir dari Akira masih terpampang di layar, belum terhapus, belum dijawab. “Kalau Bapak sudah punya jawabannya, kita bisa bicara.” Napasnya memburu, jari-jarinya ragu sebelum akhirnya mengetik pesan. Arka: "Aku sudah punya jawabannya. "Boleh aku menemui kamu malam ini?" Ia menatap layar yang tak kunjung berbalas. Satu menit... Dua menit... Lima menit berlalu tanpa kabar. Hampa menggelayut di ruang sunyi itu, bersandin
Pagi menyelinap masuk tanpa menghangatkan ruang kecil itu. Akira berdiri terpaku di depan cermin kosnya, menatap bayangan yang tampak sama, tapi membawa getar asing di dalamnya. Lingkar mata yang mulai gelap dan wajahnya yang pucat membuat senyum yang dulu mudah muncul kini tersimpan rapi, enggan keluar. Rambutnya diikat dengan rapi, hampir terlalu rapi untuk menggambarkan kekacauan yang bergejolak di hatinya. Ia menghela napas dalam-dalam, suara napasnya bergaung di ruangan kecil itu. “Jaga jarak,” gumamnya lirih pada bayangan dirinya. Bukan karena ingin pergi, tapi karena takut berharap sendirian. *** Di rumah sakit, Azka membuka mata perlahan. Senyap, sunyi dari langkah-langkah kecil perawat yang biasa datang lebih dulu pagi-pagi. Tak ada suara riang yang menyebut namanya dengan nada hangat seperti biasanya. Ia memalingkan kepala, menatap pintu seolah mencari sosok yang hilang. “Papa…” suaranya kecil, penuh keraguan. Arka yang tengah menyelidiki berkas di mejanya men







