Aku melepaskan gendonganku dari Mbak Susi. Aku kira ada hewan buas, seperti tokek atau bahkan buaya mungkin.“Ada cicak, Mas,” katanya, masih dengan napas terengah-engah.“Aku kira apaan, Mbak Susi takut sama cicak?” tanyaku, sedikit geli.“Iya, Mas. Takut banget. Makanya aku di unit punya alat pengusir cicak,” katanya sambil merapikan pakaiannya yang terbuka.“Kan cicak nggak akan menggigit, Mbak. Tapi di unit ada suami Mbak, kan? Kenapa nggak minta tolong suami?” tanyaku.“Ada, tapi suamiku pulang malam, Mas. Ya sudah, aku pamit, Mas. Tapi cicaknya sudah pergi, kan?”Aku memeriksa ambang pintu. “Sudah, tenang saja. Justru cicak yang takut sama manusia.”“Aku pernah waktu tidur, cicak jatuh tepat ke mukaku sampai hampir ke makan, makanya aku trauma,” katanya, membuatku tak bisa menahan tawa.“Berarti Mbak tidurnya mangap, ya?” godaku.“Ihhh, nggak! Ya sudah, Mas, aku ke unitku dulu,” katanya.Mbak Susi pun keluar dari unitku, tetapi berjalan sambil mengendap-endap, takut ada cicak la
Terakhir Diperbarui : 2025-12-02 Baca selengkapnya