Satu bulan berlalu. Dania tengah bersantai di rumah keluarga ketika mendapat telepon dari Liya, "Assalamualaikum, Mbak!" Suara Liya terdengar bersemangat. "Waalaikumussalam, Liya. Bagaimana keadaan toko? Ada masalah?" Dania menerka. Liya biasanya menelepon untuk urusan toko dan dia selalu santai saat menelepon. Kali ini ia membuat Dania penasaran. "Mbak. Aku mau bicara tapi bukan masalah toko." "Lalu apa?" "Mas Jeri, Mbak." "Kenapa, Jeri?" "Dia bilang mau melamarku." Suara Liya terdengar serak karena menangis. Pasti sangat terharu. Akhirnya orang yang ia kagumi akhir-akhir ini akan melamarnya. "Liya. Aku turut senang mendengarnya." "Mbak. Aku harus bagaimana?" "Terima, Liya. Dia baik dan sholeh. Kamu tahu sendiri aku mengenalnya." "Iya, Mbak. Kalau begitu aku sampaikan dulu ke keluargaku," "Iya. Itu yang terpenting." "Iya, Mbak. Kalau begitu aku tutup ya, Mbak. Nanti kalau ada info, aku akan mengabarimu lagi." "Liya kamu harus yakin pada dirimu sendiri dan percaya padany
Read more