Dania tidak pernah menyangka akan bertemu hari yang akan membuat hidupnya hancur, bahagianya hilang dan harapannya untuk tetap terjaga hingga bertemu pasangan hidupnya terasa sia-sia. "Siapa ayahnya, Nia?" Bu Tari terdengar sangat putus asa setelah mendengar pengakuan putrinya. "Nia tidak tahu, Bu." Dania menangis tersedu-sedu di hadapan orang tua dan kakaknya. "Bagaimana bisa begitu?" tanya Bu Tari lagi. "Setelah sholat magrib... aku dan teman-teman makan malam... Setelah itu... Aku tidak ingat apa-apa lagi Bu... Tahu-tahu sudah pagi dan aku sendirian di kamar vila, ada bercak darah di seprei, tapi Nia pikir mungkin itu milik teman yang sedang datang bulan." Dania menjelaskan di tengah isak tangisnya. "Sudah jelas itu jebakan, kenapa kamu begitu bodoh, makanya kakak tidak setuju kamu merayakan apapun setelah wisuda waktu itu," sahut Indra, Kakak Nia. "Maafkan Nia, Kak." Dania begitu menyesal. "Nasi sudah menjadi bubur, Nia." ucap Andre dengan kecewa. Ia tidak ingin melihat adi
Read more