Pagi itu Ravika terbangun oleh suara yang tidak asing, tapi jarang ia dengar dengan penuh perhatian.Suara anak kos bercanda di dapur.Bukan ribut. Bukan berisik. Hanya suara gelas saling bersentuhan, tawa pendek, dan langkah kaki yang santai. Biasanya, Ravika akan bangun dengan refleks waspada—menghitung siapa di mana, apakah ada yang perlu ditegur, apakah ada batas yang terlewati.Tapi pagi ini, ia hanya berbaring sebentar, mendengarkan.Dan menyadari:ia tidak merasa terganggu.Ia bangkit pelan, merapikan rambut seadanya, lalu keluar kamar. Di dapur, dua penghuni baru sedang membuat mi instan. Arven berdiri tidak jauh, menuang air panas dari teko.“Pagi, Bu,” sapa salah satu dari mereka, sedikit kikuk.“Pagi juga,” jawab Ravika. “Santai aja.”Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa dipikirkan. Dan ia baru sadar artinya setelah mengucapkannya.Santai.Bukan sekadar izin. Tapi suasana.Ia mengambil cangkir sendiri, membuat kopi. Arven melirik sebentar.“Gue kira lo masih tidur,” kata
Ler mais