Compartir

Pelan Tapi Pasti

last update Fecha de publicación: 2026-01-27 17:50:38

Pagi di rumah kos datang dengan suara yang sudah akrab: pintu kamar dibuka, langkah kaki menyusuri lorong, air kran mengalir sebentar lalu mati. Ravika bangun tanpa alarm. Ia tahu jamnya dari cahaya yang masuk ke sela-sela gorden—tidak terlalu terang, tidak juga kelabu.

Lalu kemudian Ia pergi ke dapur dan mendapati Arven sudah ada di sana, menata dua gelas di meja. Satu untuk kopi, satu untuk air hangat.

“Kayaknya hari ini bakal panas,” kata Arven, tanpa menoleh.

Ravika mengangguk. “Iya. Bau pa
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Ibu Kost yang menggoda   Hal Kecil yang Sekarang Berbeda

    Pagi itu datang dengan suasana yang masih sama. Udara sejuk. Lorong kos mulai ramai. Suara pintu dibuka dan langkah kaki terdengar seperti biasa. Tidak ada perubahan besar di dunia. Tapi bagi Ravika— semuanya terasa sedikit berbeda. Ia bangun sambil menatap langit-langit kamar beberapa detik. Lalu tersenyum sendiri lagi. “Bahaya nih…” Ia menutup wajahnya dengan bantal. “Baru sehari.” Semalam ia tidur sambil terus kepikiran satu hal— Arven sekarang benar-benar pacarnya. Bukan lagi seseorang yang “hampir”. Bukan lagi hubungan yang menggantung. Dan anehnya— justru setelah resmi, Ravika jadi lebih malu. Ia bangun. Bersiap seperti biasa. Tapi hari ini ia beberapa kali salah fokus sendiri. Salah pakai sisir. Lupa naruh handuk. Bahkan sempat bengong di depan cermin. “Lo kenapa sih, Rav…” Ia menghela napas sambil tertawa kecil. Saat keluar kamar, suasana kos sudah mulai hidup. Beberapa penghuni menyapa. Ravika membalas seperti biasa. Tapi senyum di wajahnya hari

  • Ibu Kost yang menggoda   Hari Pertama Sebagai “Kita”

    Pagi itu terasa aneh. Bukan aneh yang buruk. Justru… terlalu menyenangkan sampai Ravika sendiri belum terbiasa. Ia bangun lebih pagi dari biasanya. Duduk di tepi kasur. Menatap kosong beberapa detik. Lalu— senyum kecil muncul begitu saja. “Anjir… gue punya pacar.” Ravika langsung menutup wajahnya sendiri sambil tertawa pelan. Kalimat itu terdengar lucu di kepalanya. Aneh. Tapi nyata. Semalam semuanya terasa seperti mimpi yang berjalan pelan. Tidak heboh. Tidak dramatis. Tapi justru itu yang membuatnya terasa sangat mereka. Ravika berdiri. Merapikan rambutnya sambil masih tersenyum sendiri. “Gue harus biasa aja.” Ia menunjuk dirinya di cermin. “Iya. Biasa aja.” Dua detik kemudian— ia malah tertawa sendiri lagi. “Gimana mau biasa…” Saat keluar kamar, lorong sudah mulai hidup. Beberapa penghuni lewat seperti biasa. Tidak ada yang tahu hidup Ravika berubah semalam. Dan anehnya— itu membuat semuanya terasa lebih hangat. Ia berjalan ke dapur. Kopi sudah ada.

  • Ibu Kost yang menggoda   Akhirnya Memilih

    Pagi itu… terasa berbeda. Bukan karena suasananya berubah. Bukan karena ada kejadian besar sejak awal. Tapi karena ada sesuatu yang… sudah sampai pada titiknya. Ravika bangun seperti biasa. Duduk di tepi kasur. Menatap jendela. Cahaya pagi masuk perlahan. Hangat. Tenang. Tapi hari ini— ada perasaan yang tidak biasa. Bukan gelisah. Bukan juga takut. Lebih ke… siap. “Kayaknya hari ini bakal ada sesuatu,” gumamnya pelan. Ia tidak tahu apa. Tapi ia bisa merasakannya. Ravika berdiri. Bersiap seperti biasa. Langkahnya santai. Saat keluar kamar, lorong sudah mulai hidup. Suara aktivitas pagi. Obrolan kecil. Langkah kaki. Ia berjalan ke dapur. Seperti biasa— kopi sudah ada. Ravika tersenyum kecil. Mengambil dua gelas. Menuang dengan tenang. Tidak ada ekspektasi. Tidak ada pikiran berlebihan. Ia hanya… menjalani. Saat ia berjalan ke teras— Arven sudah duduk di sana. Seperti biasa. Tapi kali ini— tatapannya berbeda. Lebih dalam. Lebih serius. “Pagi,” ka

  • Ibu Kost yang menggoda   Tidak Lagi Takut Kehilangan

    Pagi itu datang dengan rasa yang… utuh. Bukan karena semuanya sudah jelas. Bukan karena ada jawaban yang akhirnya datang. Tapi karena Ravika bangun tanpa rasa takut. Ia duduk di tepi kasur. Menatap jendela yang mulai terang. Cahaya pagi masuk perlahan. Hangat. Tenang. Dan untuk pertama kalinya— ia tidak memikirkan Arven lebih dulu. Bukan karena perasaannya hilang. Justru sebaliknya. Karena perasaannya sudah tidak lagi membuatnya gelisah. “Gue masih ngerasa… tapi nggak berat,” gumamnya. Ia tersenyum kecil. Ravika berdiri. Bersiap seperti biasa. Langkahnya santai. Tidak terburu. Saat keluar kamar, lorong sudah mulai hidup. Suara aktivitas pagi. Orang-orang berjalan. Obrolan kecil terdengar. Ravika menyapa beberapa penghuni. Dan kali ini— ia benar-benar hadir. Tidak sambil memikirkan sesuatu yang lain. Di dapur— kopi sudah ada. Seperti biasa. Ravika mengambil satu gelas. Menuang. Lalu berhenti. Ia menatap gelas kedua. Diam sebentar. Kemarin— ia memil

  • Ibu Kost yang menggoda   Saat Hati Mulai Tenang Sendiri

    Pagi itu datang tanpa beban. Tidak ada yang berubah di luar. Langit masih sama. Udara masih sejuk. Suara aktivitas kos tetap terdengar seperti biasa. Pintu dibuka. Langkah kaki saling bersahutan. Obrolan kecil terdengar samar dari lorong. Semua terasa… seperti hari-hari sebelumnya. Tapi di dalam diri Ravika— ada sesuatu yang berbeda. Lebih tenang. Lebih stabil. Dan yang paling terasa— tidak ada lagi dorongan untuk mencari sesuatu yang belum ada. Ia bangun perlahan. Duduk di tepi kasur. Menatap jendela. Cahaya pagi masuk dengan lembut, menyentuh lantai kamar. Ia tidak langsung bergerak. Hanya diam. Menikmati momen itu. Beberapa hari terakhir terasa seperti perjalanan panjang. Bukan secara waktu. Tapi secara rasa. Dari bingung. Dari ragu. Dari menahan. Sampai akhirnya— menerima. “Gue nggak lagi nyari apa-apa,” gumamnya pelan. Ia tersenyum kecil. Dan kali ini— senyum itu terasa ringan. Tidak dibuat-buat. Ia menunduk sebentar. Menatap tangannya sendiri

  • Ibu Kost yang menggoda   Tanpa Kepastian, Tapi Tetap Tenang

    Pagi itu datang dengan cara yang… hampir sama seperti hari-hari sebelumnya. Tenang. Pelan. Tidak membawa kejutan. Tidak juga membawa jawaban. Tapi kali ini— Ravika tidak lagi mencarinya. Ia bangun. Duduk di tepi kasur. Menatap jendela yang mulai terang. Cahaya pagi masuk seperti biasa. Dan untuk pertama kalinya— ia tidak merasa perlu memikirkan apa pun. “Gue nggak lagi nunggu sesuatu datang,” gumamnya pelan. Ia tersenyum kecil. “Gue cuma… jalan aja.” Perasaan itu tidak membuatnya kosong. Justru sebaliknya— ia merasa penuh. Ravika berdiri. Bersiap seperti biasa. Langkahnya ringan. Tidak terburu. Saat keluar kamar, lorong sudah mulai hidup. Suara langkah. Pintu dibuka. Obrolan kecil terdengar. Semua terasa familiar. Di dapur— kopi sudah ada. Ravika mengambil dua gelas. Menuang dengan santai. Ia tidak berpikir apakah Arven akan ada atau tidak. Ia hanya melakukan apa yang terasa benar. Saat ia berjalan ke teras— Arven sudah duduk di sana. Seperti biasa

  • Ibu Kost yang menggoda   Jeratan Bayangan

    Asap masih bergulung di ruangan yang porak-poranda akibat ledakan. Bau mesiu bercampur debu semen menyesakkan dada. Pecahan kaca berkilauan di lantai, memantulkan cahaya lampu lorong yang redup. Dinding retak, sebagian pintu terlepas dari engselnya.Arven merasakan telinganya masih berdenging. Ia b

    last updateÚltima actualización : 2026-03-19
  • Ibu Kost yang menggoda   Neraka Di Gudang

    Dentuman pertama terdengar begitu keras ketika peluru menabrak dinding besi. Gudang yang sudah setengah dilalap api berubah jadi medan perang. Bayu berdiri di tengah, sama sekali tak bergeming meski anak buahnya berhamburan mencari posisi.“Habisi mereka!” teriak Bayu lantang.Belasan peluru segera

    last updateÚltima actualización : 2026-03-19
  • Ibu Kost yang menggoda   Percakapannya yang Terlampau

    Malam itu kos sudah mulai sepi. Sebagian penghuni masuk ke kamar masing-masing. Beberapa lampu di lorong masih menyala, memantulkan cahaya kuning redup di lantai keramik yang sedikit kusam. Ravika duduk di teras sambil memegang ponselnya, tapi sejak lima menit lalu layar itu tidak benar-benar ia

    last updateÚltima actualización : 2026-04-05
  • Ibu Kost yang menggoda   Hari yang Berjalan Seperti Biasa

    Kabar itu ternyata menyebar lebih cepat dari yang Ravika kira. Bukan karena Bima sengaja berteriak ke seluruh penghuni kos. Justru sebaliknya, ia terlihat cukup berusaha menahan diri. Tapi di tempat kecil seperti kos itu, kabar sederhana bisa berpindah dari satu kamar ke kamar lain tanpa perlu di

    last updateÚltima actualización : 2026-04-05
Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status