Pagi itu Ravika bangun dengan posisi miring, setengah menghadap sisi ranjang yang lain. Udara masih dingin, jam dinding belum menunjukkan pukul enam. Ia tidak langsung bangun. Ada rasa malas yang nyaman—jenis malas yang tidak disertai rasa bersalah.Di sampingnya, Arven sudah terjaga. Tidak bergerak, hanya menatap langit-langit, seperti sedang memikirkan sesuatu yang tidak mendesak untuk diselesaikan.“Kok tumben bangun pagi amat?” tanya Ravika, suaranya serak.Arven menoleh. “Kebiasaan lama. Susah ilang.”Ravika mengangguk pelan. Ia menarik selimut sedikit lebih tinggi. “Sekarang gak perlu buru-buru.”“Iya,” kata Arven. “Gue lagi belajar itu.”Mereka diam sebentar. Bukan diam yang kikuk, tapi diam yang memberi ruang. Ravika bisa merasakan kehadiran Arven tanpa perlu menyentuhnya—hangat, tenang, nyata.Beberapa menit kemudian, Ravika bangun lebih dulu. Ia ke dapur, menyalakan kompor, dan menjerang air. Gerakannya santai, seperti sudah hafal ritmenya sendiri. Arven menyusul, membantu
Read more