Pagi datang seperti biasanya di rumah kos itu. Tidak dramatis. Tidak terburu-buru. Hanya suara gerbang yang dibuka, langkah kaki penghuni kos yang berangkat kerja, dan aroma gorengan dari warung depan gang yang selalu muncul tepat saat matahari mulai naik. Ravika sudah bangun lebih dulu hari itu. Ia duduk di meja depan dengan secangkir kopi yang sudah hampir dingin. Buku catatan keuangan kos terbuka di depannya. Angka-angka ditulis rapi. Tanggal pembayaran. Biaya listrik. Pengeluaran kecil untuk sabun, lampu lorong, dan perbaikan keran minggu lalu. Hal-hal sederhana yang, entah bagaimana, menjadi bagian besar dari hidupnya sekarang. Arven keluar dari kamar beberapa menit kemudian. Rambutnya masih agak berantakan. Kaos hitam kusut. Ia menguap lebar sebelum akhirnya duduk di kursi seberang Ravika. “Pagi.” “Pagi juga.” “Udah ngopi?” “Dari tadi.” Arven melihat cangkirnya. “Udah dingin.” “Biarin.” Ia mengambil cangkir itu, meneguk sisa kopinya tanpa izin. Ravika la
Read more