Pagi itu dimulai seperti biasa. Terlalu biasa, malah. Ravika bangun, keluar kamar, dan menemukan kopi sudah tersedia di meja dapur. Ia tidak lagi terkejut. Tidak lagi berhenti lama seperti beberapa hari lalu. Sekarang, ia hanya mengambil gelas itu, meniup pelan, lalu meminumnya seperti itu memang sudah seharusnya terjadi. “Udah jadi rutinitas,” gumamnya pelan. Ketika ia keluar ke teras, Arven sudah duduk di sana. “Pagi,” kata Ravika. “Pagi juga.” Mereka duduk berdampingan. Diam. Nyaman. Sampai suara langkah kaki tergesa-gesa memecah suasana. “BU KOS!” Ravika langsung menutup mata sebentar. “Bima lagi bima lagi…” Bima muncul dari lorong dengan wajah panik. “Kenapa?” tanya Ravika. “Motor aku nggak bisa nyala!” Ravika menghela napas. “Kenapa tiap pagi harus ada masalah sih…” Arven langsung berdiri. “Coba biar aku lihat.” Bima mengangguk cepat. “Cepat ya, aku sudah telat nih!” Di halaman, motor Bima terparkir miring. Arven langsung jongkok, memeriksa. Ravika b
Read more