Pagi itu dimulai dengan suara hujan yang masih tersisa dari semalam. Bukan hujan deras, hanya rintik-rintik kecil yang jatuh pelan di atap seng, seperti sisa cerita yang belum benar-benar selesai. Ravika sudah bangun lebih awal. Kali ini bukan karena kebiasaan, tapi karena tidurnya memang tidak terlalu lelap. Ia duduk di tepi tempat tidur beberapa detik, menatap lantai. Lalu menarik napas panjang. “Hari ini… apa lagi ya,” gumamnya pelan. Tidak ada jawaban. Tentu saja. Ia berdiri, merapikan rambut seadanya, lalu keluar kamar. Lorong masih sepi. Lampu masih menyala karena langit di luar belum benar-benar terang. Ravika berjalan ke dapur. Dan seperti kemarin— Ada kopi. Sudah siap. Ia berhenti sejenak. Menatap gelas itu. Senyum kecil muncul tanpa sadar. “Udah kebiasaan ya dia,” gumamnya. Ia mengambil gelas itu. Hangat. Pas. Ketika Ravika keluar ke teras, Arven sudah duduk di sana. Bukan menyapu. Bukan memperbaiki sesuatu. Hanya duduk,
Read More