Pagi itu datang dengan udara yang lebih segar. Setelah obrolan panjang semalam, Ravika bangun dengan hati yang terasa jauh lebih ringan. Tidak ada lagi sisa gelisah dari hari-hari sebelumnya. Yang ada hanya satu perasaan hangat—tenang. Ia duduk sebentar di tepi kasur, memandang sinar matahari yang mulai masuk dari sela jendela. Senyum kecil terbit di wajahnya. “Kayaknya… mulai kebentuk ya,” gumamnya pelan. Bukan hanya tentang dirinya dan Arven. Tapi tentang mereka. Tentang cara mereka menghadapi hal-hal kecil tanpa saling menjauh. Seperti biasa, Ravika keluar kamar dan berjalan menuju dapur. Aroma kopi langsung menyambutnya. Dan seperti beberapa hari terakhir, ia tidak lagi merasa itu sebagai kebiasaan Arven saja. Sekarang, itu terasa seperti kebiasaan mereka. Ia mengambil dua gelas. Menuangkan kopi ke keduanya. Lalu membawanya ke teras. Arven sudah duduk di sana. Melihat Ravika datang dengan dua gelas, ia langsung tersenyum. “Pagi.” “Pagi.” Ravika duduk di sebelah
اقرأ المزيد