Pagi itu berjalan seperti biasa.Atau setidaknya—Ravika berusaha menganggapnya biasa.Masalahnya, sejak kemarin Arven mulai memanggilnya "sayang".Dan sejak kemarin pula hidup Ravika tidak lagi damai.Ia sedang menyapu halaman depan kos ketika suara langkah kaki mendekat dari belakang."Selamat pagi."Ravika refleks menoleh.Arven berdiri sambil membawa dua gelas kopi."Ini buat kamu."Ravika menerima gelas itu."Makasih."Arven tersenyum kecil."Pagi, sayang."Ravika langsung memejamkan mata."Nah kan.""Apa?" tanya Arven polos."Lo sengaja."Arven tertawa pelan.Sedangkan Ravika hanya bisa menggeleng pasrah.Tak jauh dari sana—Bima yang sedang menyiram tanaman langsung bertepuk tangan."Bagus! Lanjutkan!""BIMA!""Maaf, saya hanya penikmat drama romantis.""Pergi sana."Bima tertawa lalu benar-benar pergi.Masih sambil bersiul.Ravika menghela napas."Temen kita makin aneh.""Makin?" tanya Arven.Mereka berdua langsung tertawa.Setelah pekerjaan pagi selesai, suasana kos mulai leb
Dernière mise à jour : 2026-05-21 Read More