Sejak pembicaraan malam itu, Ravika berusaha melakukan apa yang ia katakan pada dirinya sendiri.Menikmati hari-hari yang masih ada.Bukan terus menghitung hari yang tersisa.Masalahnya—itu jauh lebih sulit daripada yang dibayangkan.Karena setiap kali melihat kalender, ia tetap sadar bahwa waktu terus berjalan.Dua minggu.Lalu tiga belas hari.Lalu dua belas.Dan angka-angka itu terasa terlalu cepat berkurang.Pagi itu Ravika sedang duduk di ruang tengah sambil menatap buku catatan kecil.Wajahnya terlihat serius.Sangat serius.Sampai akhirnya Bima lewat dan berhenti."Lo lagi nyusun rencana kudeta?""Enggak.""Rencana bisnis?""Enggak.""Daftar musuh?"Ravika langsung melempar bantal."BIMA."Bima menangkap bantal itu dengan santai."Terus apa?"Ravika menutup bukunya cepat."Rahasia."Kalimat itu justru membuat Bima makin curiga.Dan beberapa menit kemudian—Arven datang."Ada apa?""Banyak."jawab Bima."Tapi aku nggak tahu apa."Arven terlihat bingung.Sedangkan Ravika langsun
Dernière mise à jour : 2026-05-31 Read More