แชร์

Bab 204 - Pembiaran

ผู้เขียน: Chryztal
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-13 00:00:35

Pagi itu, ruang kerja Permaisuri terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada tamu, tidak ada pertemuan kecil, tidak ada daftar ritual yang menunggu tanda tangan. Hanya tumpukan laporan daerah yang disusun rapi, seolah selama ini mereka tahu akhirnya akan dibaca.

Lin Qian duduk tanpa tergesa. Ia tidak langsung membuka laporan teratas. Tangannya menyusuri sampul-sampul tipis berwarna kusam, sebagian sudah menguning. Nama daerah terpencil tertera di sudut kanan, wilayah yang jarang disebut kecuali saat pajak terlambat atau bencana terlalu besar untuk diabaikan.

Ia membuka satu laporan kesehatan. Angkanya terlihat rapi, terlalu rapi. Jumlah pasien menurun drastis, angka kematian stabil, kebutuhan obat tercatat terpenuhi.

Lin Qian mengerutkan kening. Ia membalik halaman berikutnya, lalu laporan pangan dari daerah yang sama. Produksi gandum disebut meningkat, distribusi lancar, cadangan aman. Namun laporan pajak menyebutkan pemasukan menurun tanpa penjelasan memadai.

Lin Qian menutup lapor
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 204 - Pembiaran

    Pagi itu, ruang kerja Permaisuri terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada tamu, tidak ada pertemuan kecil, tidak ada daftar ritual yang menunggu tanda tangan. Hanya tumpukan laporan daerah yang disusun rapi, seolah selama ini mereka tahu akhirnya akan dibaca.Lin Qian duduk tanpa tergesa. Ia tidak langsung membuka laporan teratas. Tangannya menyusuri sampul-sampul tipis berwarna kusam, sebagian sudah menguning. Nama daerah terpencil tertera di sudut kanan, wilayah yang jarang disebut kecuali saat pajak terlambat atau bencana terlalu besar untuk diabaikan.Ia membuka satu laporan kesehatan. Angkanya terlihat rapi, terlalu rapi. Jumlah pasien menurun drastis, angka kematian stabil, kebutuhan obat tercatat terpenuhi. Lin Qian mengerutkan kening. Ia membalik halaman berikutnya, lalu laporan pangan dari daerah yang sama. Produksi gandum disebut meningkat, distribusi lancar, cadangan aman. Namun laporan pajak menyebutkan pemasukan menurun tanpa penjelasan memadai.Lin Qian menutup lapor

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 203 - Etika Kekuasaan

    Ujian pertama Lin Qian sebagai Permaisuri tidak datang dalam bentuk sidang besar atau keputusan yang mengguncang istana. Mereka muncul melalui perkara-perkara kecil yang selama ini diselesaikan lewat kompromi kabur dan senyum formal. Justru pada detail-detail itulah etika kekuasaan dipertaruhkan.Kasus pertama adalah konflik antar dayang tingkat menengah. Dua kelompok saling menuding soal pembagian tugas malam dan akses ke ruang dalam. Menurut kebiasaan lama, persoalan seperti ini biasanya diselesaikan dengan penyesuaian internal, yang berarti satu pihak mengalah. Umumnya pihak tanpa pelindung keluarga.Lin Qian membaca laporan singkat itu, lalu meletakkannya kembali di atas meja. Kebiasaan lama ini tampak kurang adil.“Apa dasar pembagian tugas kalian?” tanyanya sambil menatap langsung kepada dayang senior.Dayang yang sudah agak tua itu menunduk sedikit. “Berdasarkan kebiasaan lama, Yang Mulia.”“Bukan itu yang kutanyakan.” balas Lin Qian, suaranya tetap datar, namun tegas.Dayang

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 202 - Pelatihan Permaisuri

    Hari kedua Lin Qian sebagai Permaisuri diisi bukan dengan audiensi besar, melainkan deretan pelajaran yang tidak tercantum dalam hukum tertulis. Ia duduk di ruang arsip dalam, ditemani beberapa pejabat senior yang rambutnya lebih dulu memutih oleh usia dan kebiasaan istana. Di hadapannya terbuka gulungan-gulungan tua, sebagian rapuh, sebagian dijaga seperti benda suci. Inilah kitab tak resmi yang selama ini membentuk perilaku seorang Permaisuri.“Ini pedoman peran Permaisuri sejak Dinasti Awal.” ujar seorang tetua sambil membuka satu gulungan. “Tidak bersifat hukum, tapi harus diikuti.”Lin Qian membaca cepat. Banyak frasa yang kabur, penuh kata seharusnya, patut, dan layak. Tidak ada sanksi, tidak ada mekanisme. Hanya ekspektasi kolektif yang diwariskan.“Jika tidak diikuti?” tanya Lin Qian.Tetua itu tersenyum tipis. “Biasanya tidak perlu ditanyakan.”Jawaban itu cukup menjelaskan segalanya.Pelajaran berlanjut ke tata cara berbicara di depan bangsawan, jarak duduk yang dianggap pa

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 201 - Permaisuri Baru

    Pagi pertama Lin Qian duduk di kursi Permaisuri tidak disambut oleh pesta besar atau ucapan selamat berlebihan. Yang menunggunya justru meja panjang yang dipenuhi gulungan laporan, papan kayu tipis berisi ringkasan harian, dan beberapa kotak dokumen yang disegel dengan cap resmi kekaisaran. Kursi itu berlapis kain merah tua dan emas, tampak megah dari kejauhan, tetapi ketika ia benar-benar duduk, Lin Qian langsung mengerti satu hal. Kursi ini bukan singgasana pasif. Ini pusat lalu lintas informasi.Lin Qian yang biasanya memakai Hanfu biru khas Tabib kini memakai Hanfu bertahan sutra halus dengan lapisan berlapis dan dihiasi dengan jumbai, liontin giok, dan aksesoris kepala mewah. Badannya terasa berat menampung semua itu. Ia yang terbiasa memakai Hanfu sederhana, tiba-tiba harus memakai Hanfu dengan banyak ornamen mewah.Ia membuka laporan pertama dengan kebiasaan lama seorang tabib. Membaca cepat, menandai anomali, mengabaikan kata-kata basa-basi. Laporan ritual istana, jadwal audi

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 200 - Upacara Pernikahan

    Hari pernikahan itu tiba tanpa tanda-tanda langit terbelah atau burung bermigrasi secara simbolik. Pagi di istana WangJing justru terasa terlalu tenang, seperti sedang menahan napas sebelum mengeksekusi perintah besar. Gerbang luar dibuka sejak fajar, pasukan penjaga berdiri dalam formasi sempurna, dan seluruh istana bergerak dengan presisi yang nyaris dingin.Lin Qian bangun lebih awal dari jadwal yang ditetapkan. Ia duduk sendiri di tepi ranjang, memandangi jubah upacara pernikahan yang tergantung rapi. Tidak ada rasa gugup yang dramatis. Yang ada justru kesadaran penuh bahwa setelah hari ini, ruang geraknya akan berubah, dan setiap langkahnya akan memiliki gema politik.“Masih sempat mundur kok.” ujar Yue Er setengah bercanda sambil membantu merapikan rambutnya.Lin Qian tersenyum, melirik lewat cermin yang ia pegang. “Kalau aku mundur hari ini, kekaisaran akan kacau lebih cepat dari biasanya karena berita calon ratu mereka kabur sebelum pernikahan mulai.”“Jawaban yang sangat Lin

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 199 - Persiapan Pernikahan

    Persiapan pernikahan kekaisaran seharusnya menjadi urusan paling terstruktur di istana. Daftar panjang, protokol berlapis, dan orang-orang yang hidupnya memang diciptakan untuk mengurus acara besar tanpa bertanya terlalu banyak. Namun ketika nama Lin Qian tertera sebagai calon Permaisuri, sistem yang biasanya patuh mendadak jadi canggung, seolah semua orang lupa cara bernapas normal.Lin Qian sendiri masih datang ke Balai Medis setiap pagi, mengenakan jubah tabib yang sama, memeriksa laporan pasien dengan fokus yang tidak berubah. Di luar ruangan, rumor berputar lebih cepat daripada dupa upacara. Di dalam ruangan, ia tetap seorang tabib yang menuntut presisi dan efisiensi.Hari pernikahan dua hari lagi, namun Lin Qian tidak turut andil mengurus pernikahannya sendiri. Wang Rui menyuruhnya beristirahat sampai hari pernikahan tiba, karena di hari pernikahan nanti mereka tidak akan memiliki waktu beristirahat. Sisa hari Lin Qian sebagai seorang Tabib Agung dari kalangan rakyat akan berakh

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status