LOGINGibran memegang erat cangkir teh hangat yang keasamannya perlahan mendingin di atas meja makan yang sepi. Langkah cepat Ashana berdesir menjauh dari lorong rumah, meninggalkan suara pintu depan yang tertutup rapat. Setiap sudut rumah megah itu seakan berbisik, mengingatkan Gibran bahwa usahanya untuk menembus dinding es sang istri kini terhalang oleh kesibukan baru yang sengaja diciptakan Ashana di kampus.Lantai gedung fakultas yang dingin menyaksikan bagaimana Ashana lebih memilih untuk tenggelam di antara tumpukan referensi skripsi daripada berlama-lama di rumah. Jemarinya bergerak cepat di atas papan ketik, berusaha keras mengusir bayangan tatapan bersalah Gibran yang terus mengikutinya setiap malam. Rasa gelisah merayapi tengkuknya saat sebuah bayangan tinggi melangkah mendekati meja perpustakaan yang remang."Jadi, Pak Gibran itu benar-benar suamimu, Sha?" bisik suara berat yang begitu dikenal Ashana, memecah keheningan yang mencekam.Andre berdiri kaku di samping meja dengan be
Matahari pagi menyusup pelan melalui celah tirai kamar, tapi kehangatan sinar itu sama sekali tak mampu mencairkan dinginnya suasana di antara mereka. Ashana sudah bangun dan langsung menyiapkan keperluan dirinya sendiri tanpa menyentuh satu pun barang milik suaminya lagi seperti dulu. Ketika Gibran memasuki kamar dengan senyum hangat dan secangkir kopi panas di tangannya, Ashana hanya melewati pria itu begitu saja seolah ia hanyalah sosok tak kasat mata.Gibran menghela napas panjang melihat penolakan halus nan menyakitkan yang kembali ditunjukkan oleh istrinya tersebut. Ia meletakkan cangkir kopi itu di atas meja rias, lalu melangkah pelan mendekati Ashana yang sedang merapikan pakaiannya di depan cermin. Pria itu menyadari bahwa dinding es yang dibangun Ashana kini jauh lebih tebal dan kokoh dibanding saat mereka masih terpisah jarak."Aku sudah buatkan kamu sarapan kesukaanmu di bawah, kita makan bersama ya pagi ini, Cha?" tawar Gibran dengan nada suara yang teramat lembut dan pen
Keesokan harinya, dipagi hari ketika Ibu Mita mendapati anak bungsunya duduk melamun di meja makan seorang diri. Rasa kasihan yang mendalam terpancar jelas dari tatapan sang ibu melihat raut wajah putrinya yang masih diliputi keraguan. Beliau teringat betapa gigihnya Gibran melangkahkan kaki setiap hari ke rumah ini meski kelelahan tampak jelas menggerogoti fisiknya.Ibu Mita meletakkan secangkir teh hangat di hadapan Ashana lalu mengambil tempat duduk tepat di samping putri bungsunya. "Mami tidak tega lagi melihat Gibran terus bolak-balik dalam kondisi selelah itu, Cha," ujar Ibu Mita mengawali percakapan dengan nada sangat lembut. Beliau menatap lekat mata Ashana, mencoba menyentuh sudut terdalam dari hati sang anak yang masih keras membatu."Kesalahan Gibran memang membuatmu terluka, tapi perjuangannya selama dua minggu ini membuktikan betapa besarnya rasa penyesalannya padamu," lanjut Ibu Mita sembari mengelus jemari Ashana.Beliau tahu benar betapa suaminya itu menyiksa diri demi
Langkah kaki Ashana terasa hampa saat ia perlahan mendekati jendela kamar di lantai dua yang menghadap langsung ke arah halaman depan. Biasanya, deru halus mesin mobil Gibran sudah memecah heheningan malam sejak jam tujuh, tetapi hingga detik ini hanya ada kegelapan yang menyambut pandangannya. Kegelisahan asing yang tak terundang mulai merayap halus di balik dinding hatinya yang selama dua minggu ini ia bentengi begitu rapat.Gadis itu menyilangkan kedua tangannya di dada, mencoba menepis kekosongan yang tiba-tiba hadir membelenggu pikirannya yang kacau. Ia menatap deretan bunga di vas yang mulai layu, saksi bisu kegigihan suaminya yang tak pernah absen meminta maaf. Rasa aneh yang membingungkan itu terus tumbuh, membuatnya berulang kali melirik jam dinding yang kian bergulir mendekati tengah malam.Guna menghibur hatinya yang membisu, Ashana mengukir senyum sinis yang dipaksakan sembari menatap kehampaan jalanan di luar sana. "Baru segitu saja rupanya usahanya, padahal katanya tidak
Setiap malam tanpa pernah absen sedikit pun, deru mesin mobil Gibran selalu membelah keheningan halaman rumah mertuanya. Meski tubuhnya lelah setelah seharian bergelut dengan rutinitas kantor, Gibran tetap memaksakan diri untuk datang demi melihat paras sang istri. Pria itu rela menembus kemacetan kota hanya untuk membawa segenggam harapan agar pintu maaf Ashana yang tertutup rapat bisa sedikit terbuka.Namun, kehadiran Gibran selalu saja disambut oleh keheningan dingin yang menusuk hingga ke dalam relung dadanya. Ashana hanya mau keluar dari kamar setelah Ibu Mita mengetuk pintu dan mendesaknya untuk menghargai suaminya yang datang. Gadis itu duduk kaku di sofa tanpa pernah sekalipun mau menatap wajah suaminya yang kini dipenuhi oleh sorot penyesalan mendalam."Mas, tahu malam ini sudah terlalu larut tapi Mas hanya ingin melihat keadaanmu sebentar, Sha," bisik Gibran lirih sembari meletakkan sebungkus martabak manis kesukaan istrinya di atas meja. Ashana tetap membisu, membuang pand
Deru mesin mobil yang membawa Ashana perlahan menghilang di balik tikungan jalan, meninggalkan Gibran yang masih berdiri mematung di pelataran rumah sakit. Pak Esa menepuk bahu putranya dengan helaan napas berat, mencoba memberikan kekuatan pada jiwa muda yang sedang dihantam gelombang penyesalan itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, Gibran akhirnya melangkah lesu menuju mobilnya, menyadari bahwa perjuangan terberat dalam hidupnya baru saja dimulai.Sementara itu, suasana hangat tapi diselimuti keheningan menyambut kedatangan Ashana di rumah orang tuanya. Setibanya di kamar masa kecilnya, Ashana langsung beristirahat ditemani sang ibu yang tak henti-hentinya mengusap lembut jemari putrinya. Di ruang tamu, Aliyah duduk menunduk sembari meremas jemarinya sendiri, mengumpulkan sisa keberanian yang terlambat untuk menghadapi badai yang pernah ia ciptakan.Setelah memastikan Ashana sudah terlelap damai, Pak Aris dan istrinya berjalan menuju ruang keluarga di mana Aliyah telah menungg
Subuh-subuh Ashana, sudah bangun lebih awal dari biasanya. Setelah mandi, ia bersiap menuju kamar kakaknya untuk melihat persiapan sang kakak.Namun, langkah kakinya terhenti kala melihat orang tuanya, om dan tantenya kini duduk melingkar di ruang keluarga lantai 2. Ashana dengan ceria dan semangat
Gibran langsung menjauhkan wajahnya dengan tenang dari Syakilla saat Rio memergoki mereka. Sementara Ashana terus menunduk malu seakan baru ketahuan berbuat mesum padahal tidak terjadi apa-apa."Maaf Bos, saya mengganggu. Cuman mau mengantar kopi ini saja," ujar Rio menggaruk kepalanya yang tak gat
Seorang gadis muda berusia 19 tahun bernama, Ashana melangkah memasuki gedung pencakar langit dengan buru-buru. Ia memperlihatkan sebuah id card yang tergantung di lehernya ke satpam, tanda ia sudah punya akses untuk masuk.Setelah berhasil masuk, ia langsung mencari toilet karena saat ini ia kebel
Setelah membuat alasan main dengan Dea setelah pulang magang, akhirnya Ashana terlepas dari cecaran Gibran. Entah suaminya percaya beneran atau pura-pura yang jelas ia bisa segera pergi dari hadapan Gibran saat ini. Ashana pun melakukan bersih-bersih sebelum istirahat. Sekitar jam 10 malam, Ashana







