LOGINMalam itu, di ruangan kerja kantor megah milik Gibran. Pria itu berjalan mondar-mandir di atas karpet tebalnya, sambil memegangi kepala yang terasa ingin pecah. Ponsel di genggamannya terus-menerus memperdengarkan nada dering yang tidak aktif. Ashana benar-benar melenyapkan diri,sudah dua hari istrinya itu hilang bagai ditelan bumi."Masih belum ada kabar tentang Ashana?" suara Rio memecah kesunyian ruangan. Sahabat sekaligus asistennya itu berdiri di dekat pintu dengan wajah prihatin.Gibran membanting ponselnya kasar ke atas meja kaca. "Nihil, nomornya tidak aktif terus, akun media sosialnya juga tidak ada yang aktif bahkan nomor Dea sahabatnya juga tidak aktif ! Rio, tolong bantu aku. Cari keberadaan Ashana sampai ketemu, sekarang juga, pakai semua orangmu!"Rio menghela napas panjang, berjalan mendekat. "Kamu sudah coba ingat-ingat lagi? Cewek seusia Ashana tidak akan pergi begitu saja tanpa alasan. Apa yang sebenarnya terjadi sebelum kamu pergi dinas kemarin?"Pertanyaan Rio meng
Sudah tak terhitung berapa kali Ashana memencet tombol daya ponselnya hanya untuk melihat layar ponsel karena diam-diam berharap ada satu pesan atau panggilan masuk dari Gibran. Namun, nihil suaminya itu tiba-tiba hilang tanpa jejak sejak kemari, tidak pulang ke rumah tanpa pesan apapun."Sebenarnya dia anggap aku apa sih? Masa hanya gara-gara kesalahpahaman begitu langsung tidak pulang rumah," gumam Ashana, melempar ponselnya ke atas tempat tidur dengan napas memburu. Dering ponsel yang tiba-tiba berbunyi membuat jantung Ashana melonjak. Namun, nama Dea yang malah muncul di layar, bukan Gibran."Halo, Cha?" suara Dea terdengar riang dari balik telepon. "Kamu lagi sibuk tidak? Mumpung akhir pekan, ikut aku liburan yuk! Aku dapat voucher penginapan di pulau terpencil daerah Kepulauan Seribu. Tenang saja, masih masuk wilayah Jakarta kok, tapi pantainya sepi banget. Cocok buat refreshing!"Ashana terdiam sejenak,pikirannya berputar cepat. Kebetulan sekali, Aliyah, baru saja keluar dari
Hawa dingin masih terasa dari kamar utama, membekas bersama keheningan yang tersisa sejak semalam. Ashana merapikan rambutnya di depan cermin, mengabaikan pantulan bayangan Gibran yang sedang mengenakan jam tangan di sudut ruangan. Tidak ada sapaan hangat, tidak ada kebiasaan mereka saat mengawali pagi.Pertengkaran hebat semalam saat Gibran terbakar cemburu masih membuat benteng gengsi di antara mereka berdiri kokoh."Aku berangkat," ujar Gibran singkat. Suaranya datar, tanpa nada.Ashana hanya mengangguk tipis tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. "Iya," balasnya tak kalah dingin.Gibran menghembuskan napas berat, melangkah keluar kamar dengan langkah lebar. Ashana menatap pintu yang tertutup rapat itu dengan dada sesak yang masih menahan amarah. Kekesalannya pada Gibran masih memuncak, ia tidak terima dipojokan padahal kenyataannya tidak sesuai sehingga Ashana malas menatap dan berbasa-basi ke Gibran.Daripada terus mengurung diri di rumah yang mendadak terasa asing, Ashana m
Lembaran referensi ilmiah dan tumpukan draf judul proposal skripsi yang baru saja selesai disuntingnya berserakan di atas meja belajarnya. Masa magangnya resmi berakhir dua hari lalu, tapi alih-alih beristirahat, benaknya kini terbagi antara urusan akademik dan rasa cemas yang belum sepenuhnya surut.Walau badannya lelah ia tetap menyempatkan untuk menjenguk Kakaknya. Apalagi barusan ia mendapat sebuah pesan singkat dari ibunya bahwa Aliyah akhirnya sadar.Ashana langsung bergegas ke rumah sakit pagi itu, tak lupa Ashana menghubungi Dewa, Dea dan Andre. Mereka semua bertemu didepan rumah sakit dan bersamaan masuk ke ruang perawatan."Mbak Aliyah," panggil Ashana pelan, matanya berkaca-kaca saat melihat kelopak mata kakaknya terbuka.Aliyah tersenyum lemah dari balik masker oksigen. "Ashana," ujad Aliyah pelan dan lemah."Ya Allah Kak, akhirnya Kakak membuka mata Kakak. Aku senang sekali," sahut Ashana seraya memeluk jemari kakaknya yang masih dingin.Raut lega terpancar jelas di wajah
Langkah kaki Ashana bergema kencang di sepanjang koridor lantai tempat ia magang. Wajahnya ditekuk, rahangnya mengatup rapat. Setiap kali mengingat percakapannya dengan Gibran semalam, dadanya terasa sesak oleh amarah yang membakar.Kalimat Gibran terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak. Pria itu yang statusnya sebagai suaminya lebih memilih membela mantannya daripada mepercayai bukti rekaman CCTV kabur yang berhasil Ashana dapatkan dari cafe Dewa."Ashana, laporan arus kas mingguan sudah selesai?" tanya Gibran ketika mereka tidak sengaja bertemu di dekat pantry.Pria bertubuh jangkung dengan kemeja putih tergulung sampai siku itu menatapnya penuh harap.Ashana tidak menjawab, ia bahkan tidak menoleh sedikit pun. Ashana tetap berjalan memasuki ruangan Gibran tanpa memperdulikan apapun. Berkas di tangannya diletakkan di atas meja Gibran dengan dentuman pelan, lalu ia berbalik akan meninggalkan ruangan Gibran tanpa sepatah kata."Cha, kita perlu bicara," panggil Gibran menahan lan
"Aku habis dari mal, Bu," alibi Ashana tanpa mengedipkan mata, mencoba menata napasnya yang masih sedikit tersengal. Ia mendekati ranjang tempat Aliyah terbaring koma. "Tadi Dea minta ditemani belanja barang sebentar, pas mau ke sini, jalanan macet parah karena ada perbaikan jalan. Maaf ya, Bu sudah bikin khawatir." Bu Mita mengembuskan napas lega, membelai lembut bahu putri bungsunya, Pak Aris yang duduk di sofa ruangan juga mengangguk mengerti. Sementara di sudut ruangan, Gibran hanya menatap Ashana dengan pandangan yang sulit diartikan. Senyum tipis terukir di bibirnya. Namun, matanya memancarkan keraguan yang sangat jelas. "Ya sudah, yang penting kamu selamat sampai di sini Nak," ujar Bu Mita lembut. "Gibran dari tadi cemas nungguin kamu, Cha." Gibran melangkah mendekati Ashana, memotong jarak di antara mereka. Tangan kanannya terulur, mengusap lembut helai rambut Ashana yang sedikit berantakan lalu menyangkutkannya di belakang telinga sang istri. "Lain kali kalau mau pergi s
"Ssillahkan Pak," jawab Dea sedikit gugup.Gibran dan Rio tanpa bicara lagi langsung duduk berhadapan dengan Ashana dan Dea. Mereka seakan dua pasangan sejoli yang lagi double date."Tumben Pak Gibran dan Pak Rio makan di kantin ya," bisik beberapa karyawan yang hadir di kantin dan menyaksikan pema
Sesuai kesepakatan bersama, pernikahan Ashana dan Gibran dirahasiakan. Gibran tidak ingin membuat berita negatif untuk 2 keluarga jika tau mempelainya tiba-tiba diganti.Ashana tidak masalah sama sekali karena ke depannya ia masih bebas bermain tanpa harus pusing dengan status istri seorang CEO. Se
2 keluarga itu baru tau kalau ternyata, Ashana dan Gibran sudah saling kenal. Mereka ternyata bos dan anak magang di kantor setelah mengintrogasi sebentar.Setelah introgasi mendadak selesai, baru akan dilakukan pemasangan cincin nikah. Kedua keluarga inti sudah berada di dalam kamar untuk menyaksi
Subuh-subuh Ashana, sudah bangun lebih awal dari biasanya. Setelah mandi, ia bersiap menuju kamar kakaknya untuk melihat persiapan sang kakak.Namun, langkah kakinya terhenti kala melihat orang tuanya, om dan tantenya kini duduk melingkar di ruang keluarga lantai 2. Ashana dengan ceria dan semangat







