Pak Jefri mendekapku erat, menenggelamkan wajahku di dadanya yang bidang. "Tentu saja, Sayang..." bisiknya sambil mengusap lembut kepalaku. "Saya sudah menanti momen ini sejak lama. Tidak mungkin saya akan melepaskan kamu lagi."Aku mengangkat wajah, menatapnya dengan senyum yang tersungging lebar. Jantungku seperti akan melompat dari tempatnya, darahku berdesir hebat seolah ada magnet besar yang menariknya. "Saya mencintai Bapak. Saya sangat mencintai Bapak."Pak Jefri membalas dengan senyum yang merekah. Ia kemudian mengecup lembut bibirku—kecupan yang hangat dan penuh cinta. Aku dapat merasakan ketulusan cintanya lewat sentuhan bibirnya kali ini, bukan ciuman penuh kecemburuan atau amarah seperti sebelumnya.Setelah beberapa detik larut dalam ciuman hangat itu, ponsel Pak Jefri tiba-tiba berdering. Ia menghentikan cumbuannya, lalu segera meraih ponsel dari saku jas."Pak Hendra," ucapnya sambil menunjukkan layar ponsel padaku."Ya sudah, jawab saja," bisikku.Pak Jefri kembali mer
Last Updated : 2025-12-25 Read more