Mendengar perkataan Kayden, Pak Hendra menatapnya lama, berusaha memahami ketulusannya. “Sementara waktu,” jawab Kayden dengan lembut. “Jika itu membuat Om lebih tenang.” “Tapi saya tidak akan mundur,” tambah Kayden. “Saya akan membuktikan keseriusan saya.” Suasana menjadi hening, Zahra menggenggam tangannya sendiri, menahan gejolak di dalam dada. “Baik,” kata Pak Hendra akhirnya. “Buktikan.” Kayden mengangguk. “Saya akan buktikan, Om.” Dia menoleh kepada Zahra. “Kita berangkat?” Zahra tidak langsung menjawab, terlihat ragu, menatap ayahnya. “Pergilah,” ucap Pak Hendra singkat. “Tapi ingat pembicaraan kita.” Zahra mengangguk pelan. Saat mereka melangkah keluar, udara pagi terasa lebih berat dari biasanya. Di belakang mereka, Pak Hendra berdiri dengan wajah tegas, tetapi pikirannya penuh pertimbangan.*** Malam itu, suasana di rumah Pak Hendra kembali terasa tegang, tetapi kali ini bukan karena percakapan antara ayah dan anak. Ketukan di pintu terdengar tegas dan teratur. Pak
Last Updated : 2026-03-04 Read more