Deni baru saja melangkah mendekati pintu kamar rawat ketika daun pintu itu terbuka pelan. Dina keluar dengan wajah lelah, namun sorot matanya sedikit lebih tenang dibanding sebelumnya, seolah ada beban yang mulai terangkat meski hanya sedikit. Ia menutup pintu perlahan, seolah tak ingin mengganggu suasana di dalam yang sudah mulai tenang setelah keributan sebelumnya.“Kak, kenapa keluar?” tanya Deni spontan, suaranya mengandung rasa ingin tahu yang mendalam. “Alya sama siapa di dalam?” Dina menghela napas pelan, menandakan betapa beratnya perasaan yang ia bawa. “Sama Danang,” jawabnya lirih, seolah mengucapkan nama itu membuat hatinya bergetar.Deni tertegun sejenak, alisnya berkerut, dan dadanya terasa mengeras. “Danang?” ulangnya, memastikan apa yang ia dengar tidak salah. “Alya… sama dia?” “Iya,” sahut Dina singkat, wajahnya mencerminkan campuran rasa lega dan cemas. “Alya sudah tenang. Dari tadi nangis terus, tapi setelah digendong Danang, dia pelan-pelan diam. Sekarang malah ti
Terakhir Diperbarui : 2026-01-22 Baca selengkapnya