“Bunda…” suara Danu keluar serak, nyaris tak terdengar, suara orang yang sedang putus asa.Aini berhenti beberapa langkah dari mereka, menjaga jarak. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya menyimpan luka yang dalam yaitu luka seorang ibu yang menyaksikan anaknya hancur, berjuang, dan melahirkan tanpa pendamping.Dalam keheningan yang menegangkan itu, Danu merasakan beratnya tanggung jawab yang ia abaikan selama ini.Tanpa aba-aba, Danu bangkit dari duduknya. Lututnya gemetar, tubuhnya seolah digerakkan oleh penyesalan yang menumpuk terlalu lama. Dalam momen yang tak terduga bagi semua orang, Danu menekuk lutut dan bersimpuh tepat di hadapan Aini. “Bunda…,” katanya lagi, kali ini dengan suara pecah, penuh emosi yang tak bisa ia bendung. “Maafin saya, Bunda. Maafkan saya.”Endang terkejut dengan apa yang dilakukan oleh putranya. Namun, ia membiarkan apa yang dikatakan oleh putranya itu, karena ia tahu kesalahan yang telah dilakukan oleh putranya adalah kesalahan yang fatal bagi suatu pe
Terakhir Diperbarui : 2026-01-05 Baca selengkapnya