LOGINKinanti duduk lagi di samping Angga. Kali ini ia lebih tenang. Tangannya kembali menggenggam tangan suaminya, tapi tidak seerat tadi.
“Sekarang tidur lagi ya,” katanya pelan. “Nanti kalau sudah lebih enakan, kita ngobrol.” Angga menghela nafas panjang, lalu mengangguk. “Kabar Yono gimana?" Dalam keadaan sakit pun Angga masih memikirkan orang lain."Baik-baik aja, nggak separah kamu, udah pulang dari Rumah Sakit." Kinanti mengelus jidat Angga."Alhamdulillah. Maafin aku, Ki." Tatapan Angga sayu."Buat apa?" Dahi Kinanti mengernyit."Buat kejutan yang ingin aku berikan." Kinanti tersenyum kecil. “Aku sampe syok, bukan terkejut lagi." kekehan keluar dari mulut kinanti. "Udah tidur lagi, Mas. Aku tungguin di sini.""Ki, tidur di sebelahku sini, kasian dedek bayinya."Kinanti tersenyum, dia bangun dari duduk naik ke ranjang sebelah Angga. sebelum merebahkan tubuh Kinanti mengecup pipi Angga.Pintu kamar tertutup keras di belakang Lisa. Bunyi hentakannya menggema singkat, lalu lenyap, menyisakan keheningan yang menyesakkan. Lisa berdiri mematung beberapa detik, dadanya naik turun tak beraturan. Lisa mendengus kesal. Ia berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Langkahnya cepat, gelisah. Tangannya beberapa kali meremas rambut sendiri, seolah mencoba meredam pikiran yang berisik di kepalanya. Wajah Angga yang terbaring di rumah sakit kembali terlintas. Wajah Kinanti—kecewa, bingung, tapi tetap berusaha baik, saat Lisa menelponnya kemarin. “Apa yang aku lakukan…” gumam Lisa pelan. Ia berhenti di depan cermin. Menatap bayangannya sendiri. Mata itu terlihat lelah. Bukan hanya karena kurang tidur, tapi karena terlalu lama menipu diri sendiri. Lisa menyentuh wajahnya. "Sadar Lis. Jangan terperangkap oleh kedengkian," gumam Lisa. Bram bilang semuanya terkendali. Bram bilang tak akan ada k
Mereka masih menikmati kebersamaan itu ketika ponsel Kinanti yang tergeletak di atas meja makan bergetar. Layar menyala, menampilkan satu nama yang langsung mengubah suasana. "Kamu masih berhubungan sama Lisa, Ki." Kinanti refleks melirik layar, lalu menatap Angga. Senyumnya memudar tipis. Angga juga melihatnya. Seketika, jidatnya melipat. Menatap penuh curiga pada Kinanti. Kinanti meraih ponselnya, ragu sejenak sebelum mengangkatnya. Namun belum sempat ia menekan layar, suara Angga lebih dulu terdengar—tenang, tapi dingin. “Sejak kapan kamu kembali berhubungan sama Lisa?" Kinanti menoleh. Ada keterkejutan di matanya, bukan karena pertanyaannya, tapi karena nada suara Angga yang berubah. “Mas…” Kinanti menurunkan ponsel itu. “Cuma sesekali. Dia nanyain kabar kamu waktu di rumah sakit.” Angga kembali duduk, menyandarkan tubuhnya ke sofa. Tatapannya lurus ke d
Siang itu matahari masih bersinar, tapi angin yang berembus dari halaman membuat suasana rumah tetap sejuk. Angga berdiri di teras depan, satu tangannya bersandar pada pilar, sementara Gerry merapikan jasnya di dekat mobil. “Aku masih mau di sini seminggu, Ger,” kata Angga membuka pembicaraan. Suaranya tetap tenang. “Kamu urus dulu kerjaan di Jakarta.” Gerry mengangguk. “Iya.” Angga terdiam sesaat, lalu melanjutkan, “Gimana kabar Kakek?” “Kakek sehat, Bos,” jawab Gerry singkat. Angga mengernyit tipis. “Waktu aku belum sadar, katanya Kakek sempat ke sini. Kenapa nggak lama?” Gerry tersenyum kecil. “Non Kayla rewel di Jakarta. Nggak mau ditinggal lama. Jadi Kakek langsung pulang." Angga manggut-manggut pelan, seolah mengerti. “Terus… kabar Celina gimana?” Gerry menghela napas pendek. “Belum ada kabar lagi dari Non Celina.” Angga terdiam. Ia menatap halaman rumah yang lengang, pikirannya
Setelah dari Rumah Sakit. Angga mengantar Kinanti sampai ke dalam kamar. Langkahnya pelan, mengimbangi langkah Kinanti. "Mau mandi dulu atau mau langsung istirahat?" Kinanti menatapnya sebentar. Ada lelah yang belum sepenuhnya hilang dari mata Angga, tetapi ada kegelisahan di sana. "Aku mandi dulu aja, Mas." "Tadi udah mandi di Rumah sakit." “Istirahat ya,” ucap Angga lembut. “Jangan mikirin apa-apa dulu. Biar aku aja yang mikir, kamu bahagia aja biar dedek bayinya bahagia.” Kinanti mengangguk. “Kamu juga jangan kecapekan.” Angga tersenyum tipis. Ia mengecup kening Kinanti sebelum berbalik menuju pintu. Begitu pintu kamar tertutup, senyum itu menghilang. Wajahnya kembali dingin, sekeras pikirannya saat ini. Ia menuruni anak tangga dan menuju dapur. Darmi sedang berdiri di sana, tangannya sibuk membereskan gelas. “Mbok,” ujar Angga pelan tapi tegas, “Nanti kalau Gerry datang, antar langsung ke ruang kerja.” Darmi menoleh, menangkap keseriusan di mata majikannya. “Ba
Setelah Kinanti naik ke kamarnya, dari balik gorden ia melihat lampu mobil menyorot di halaman. Mobil Gerry masuk ke garasi. Kinanti hanya memperhatikan sebentar, lalu menurunkan gorden kembali. Dadanya terasa sedikit sesak, sepertinya ada urusan yang harus di selesaikan, pikir Kinanti.Wanita cantik ini mengambil handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi, dia menatap dirinya di pantulan cermin, ada rasa lega setelah beberapa hari berada di rumah sakit, dan akhirnya bisa kembali ke rumah ini bersama Angga. Usai mandi dan membersihkan diri, Kinanti turun ke bawah. Aroma masakan langsung menyambutnya. Darmi terlihat sibuk di dapur.“Masak apa, Mbok?” tanya Kinanti sambil mendekat.“Masak kesukaan Pak Angga,” jawab Darmi ceria. “Sekalian buat Non juga. Sup iga sama iga asam manis. Biar tenaga kalian cepat pulih.”Kinanti tersenyum kecil. Meraih gelas lalu menuang jus jeruk, setelah itu berdiri di dekat Darmi. “Wah, lengkap. Wangi banget bikin laper."
“Sialan!” Bram menggebrak meja hingga gelas di atasnya terguncang. Rahangnya mengeras, napasnya memburu. Di layar ponsel, kabar tentang Angga yang selamat masih terpampang. “Harusnya mati, atau cacat.” gumamnya penuh amarah. Ia meraih jaket, menyampirkannya kasar, lalu keluar tanpa menoleh. Mesin mobil menderu, membawa Bram menuju satu-satunya orang yang masih bisa ia kendalikan. Lisa. Di rumahnya, Lisa duduk di atas sof, tangannya lincah menggonta ganti channel, tak ada firasat apa-apa. Tiba-tiba Ketukan keras di pintu membuat tubuhnya menegang. “Lisa. Buka.” Suara Bram dingin, tanpa pilihan. Lisa membuka pintu perlahan. Bram langsung masuk, menutup pintu dengan satu hentakan. Tatapannya menusuk, senyum tipis terbit—senyum yang selalu membuat Lisa merasa kecil. “Kamu gagal,” kata Lisa lirih, nyaris tak terdengar. Bram tertawa pendek. “Ya aku gagal? jadi aku butuh kamu." Ia mendekat, menurunkan suara. “Dengar baik-baik. Kamu masih punya hutang sama aku.” “Aku su







