“Ta-tapi, Mas … itu terlalu cepet,” ucap Djiwa lirih. “Gimana kalau mereka curiga Djiwa hamil anak Mas Radja? Dan … Djiwa juga gak enak sama Mbak Inggrit dan keluarga yang lain.” Ia menarik napas pelan, lalu melanjutkan dengan suara penuh kehati-hatian. “Apa kata mereka nanti, Mas? Gimana kalau Djiwa dipandang rendah karena naik ranjang kakak ipar?” Radja menatapnya lama, sorot matanya tajam namun tenang, sebelum akhirnya membuka suara. “Lalu, kamu maunya bagaimana?” “Em …,” Djiwa menggigit bibirnya. “Satu bulan setelah Mas Radja dan Mbak Inggrit resmi bercerai gimana? Setelah itu, Mas Radja bisa kasih lampu hijau ke Mas Kai.” “Satu bulan?” Radja menggeleng. “Itu terlalu lama bagi saya.” Nada suaranya dingin, tanpa ragu. “Yang paling tepat adalah setelah saya resmi bercerai, semuanya langsung berjalan.” “Tapi—” “Dan untuk menikahi kamu,” Radja memotong cepat, “Itu bisa dilakukan satu bulan setelah kamu dan Kaisar resmi berpisah. Menurut saya, rencana ini sudah paling benar.”
Read more