Masuk“Iya, Om. Adjiva,” ucap Ratu pelan, seolah takut salah. “Nama depannya sama kayak Ibu.” Radja menelan ludahnya. Suaranya keluar lirih, bergetar tanpa ia sadari. “Siapa nama ibu kamu, Nak?” “Adjiva Nadjwa.” Dunia Radja runtuh seketika. Tangannya yang semula bertengger lembut di puncak kepala Ratu perlahan turun, mengepal di samping tubuhnya. Napasnya terasa berat, dadanya seolah diremas sesuatu yang tak kasatmata. Tatapan gelapnya menelisik wajah gadis kecil di hadapannya, dan di sanalah ia akhirnya melihat dengan jelas. Mata itu. Hidung kecil itu. Lengkungan senyum yang bahkan saat menangis pun masih sama. Semuanya milik Djiwa. “Di mana … Papa kamu?” tanya Radja akhirnya, suaranya berat, ragu, seolah ia berdiri di tepi jurang yang dalam dan gelap. Ratu terdiam. Bibirnya bergetar. “Papa …,” gumamnya lirih, matanya kembali berkaca-kaca. Radja menahan napas. “Kenapa, Nak?” “Kata Ibu, Papa udah meninggal,” jawab Ratu pelan, nyaris tak terdengar. “Ratu gak punya
Rokok di tangan Radja jatuh ke lantai, apinya mati terinjak tanpa sadar. Radja melepaskan kerah kemeja Sultan perlahan. Dadanya naik turun, napasnya berat, matanya memerah bukan karena marah semata—melainkan karena pengkhianatan. “Mami?” gumam Radja lirih, nyaris tak terdengar, seolah kata itu terlalu berat untuk keluar dari bibirnya. “Jadi … benar, Mami juga terlibat?” Sultan menunduk lebih dalam. Bahunya mengeras, napasnya tertahan. Ia tak sanggup menatap wajah kakaknya. “Dan kamu memilih menuruti kemauan Mami,” suara Radja bergetar karena amarah yang ditahan mati-matian. “Membunuh orang yang sama sekali tidak bersalah?” Kedua tangan Radja mengepal di sisi tubuhnya. Urat-urat di pelipisnya menegang. “Kenapa, Tan?” desaknya, suaranya merendah namun tajam. “Kenapa kamu melakukan ini? Kenapa sampai setega itu? Saya … saya tidak pernah menyangka kamu bisa melakukan hal seperti ini.” “Saya terpaksa, Mas,” jawab Sultan akhirnya. Suaranya kecil, rapuh. “Terpaksa bagaimana?”
Mobil Radja akhirnya berhenti di depan penthouse yang lima tahun lalu ia beli—tempat yang dulu ia impikan sebagai rumah bagi dirinya, Djiwa, dan anak-anak mereka. Radja sadar, keluarganya akan terkejut jika tahu istrinya telah ditemukan setelah menghilang selama lima tahun. Karena itu, ia membawanya ke sini lebih dulu. Tempat yang masih ia anggap paling aman. “Ayo turun,” ucap Radja, tangannya sudah lebih dulu mencengkeram pergelangan tangan Djiwa. “Aku mau pulang ke rumah aku sendiri,” balas Djiwa tegas, tetap menatap lurus ke depan. Radja mengerutkan kening. “Ini rumah kamu, Djiwa.” Djiwa akhirnya menoleh, menatap mata Radja tanpa gentar. “Ini bukan rumah aku. Karena aku bukan lagi istri kamu.” Ia menarik napas dalam, menegakkan bahunya. “Kita udah pisah lima tahun, Mas. Gak ada nafkah materi, gak ada nafkah batin, gak ada kehidupan bersama. Pernikahan itu udah aku anggap gugur.” Radja hendak menyela, namun Djiwa lebih dulu melanjutkan, suaranya dingin dan terukur.
“Kamu pikir saya tidak bisa mengenali kamu,” ucap Radja sambil melangkah maju satu langkah, membuat Djiwa refleks mundur hingga punggungnya nyaris menyentuh daun pintu toilet. Pikiran Djiwa kacau. Kepalanya dipenuhi satu pertanyaan yang berputar-putar tanpa jawaban, bagaimana Radja bisa tahu? Radja berhenti tepat di hadapannya. Terlalu dekat. Tubuh besar pria itu mengurungnya, menyisakan ruang sempit yang membuat napas Djiwa semakin sesak. Djiwa menunduk, jemarinya gemetar. Ia tak sanggup menatap wajah itu. “Sudah lima tahun,” suara Radja rendah, tertahan, “Dan kamu pikir saya lupa seperti apa wajah istri saya?” Jantung Djiwa berdegup kencang, begitu keras hingga terasa menyakitkan. Lututnya melemas. “Istri saya,” lanjut Radja, suaranya bergetar namun sarat tekanan, “Perempuan yang sangat saya cintai. Mustahil saya tidak mengenalinya. Bahkan hanya dari punggungnya.” Radja mendekat setengah langkah lagi. “Ganti warna rambut. Potong pendek. Pakai topeng sekalipun,” rahang
“Radja, ada apa kamu datang ke sini?” tanya Satya. Nada paniknya gagal ia sembunyikan. Tatapannya sempat melirik sosok perempuan yang masih berdiri kaku di depan meja kerjanya. Radja tak langsung menjawab. Pandangan pria itu terkunci pada wanita yang berdiri hanya satu langkah darinya. Ia menatapnya dari atas sampai bawah. Blazer abu-abu membingkai tubuh rampingnya, rok mini ketat senada menegaskan siluet kakinya. Rambut pendek pirang itu terasa asing, tapi yang jelas bukan sekretaris Satya yang tadi terlihat di depan ruangan. Siapa dia? Di sisi lain, tubuh Djiwa menegang hebat. Kepalanya tertunduk dalam, seolah ingin menghilang. Lututnya terasa lemas, dadanya berdegup cepat tak beraturan. Telapak tangannya basah oleh keringat dingin yang merayap pelan. Tidak. Dia tidak boleh ketahuan ada di sini. Ia menggigit bibirnya pelan, berdoa dalam hati agar Radja tak mengenalinya. Rambutnya memang masih pirang, tapi kini pendek. Sangat berbeda dari Djiwa yang pernah dikenalnya.
“Halo, di kelas ini ada yang namanya Rana?” tanya Narendra dengan suara lantang. Ia berdiri di ambang pintu kelas TK bersama saudara kembarnya dan sepupunya, Binar. Regantara berdiri tepat di belakangnya, kedua tangan terlipat di dada, wajahnya datar. Tatapannya menyapu isi kelas, menunggu satu nama yang terasa begitu akrab di kepalanya. Entah sudah kelas ke berapa mereka datangi hari itu. Narendra mulai memijat lututnya yang pegal karena terlalu banyak berjalan, sementara Binar mengelap keringat di dahinya dengan tisu, napasnya sedikit tersengal. “Rana, kamu dipanggil,” ujar salah satu murid di dalam kelas itu. Sekejap, mata ketiganya berbinar. Narendra dan Binar langsung melangkah masuk, Regantara menyusul dengan langkah lebih tenang. Seorang gadis kecil bangkit dari tempat duduknya. “Halo, aku Rana,” ucapnya polos. Narendra dan Binar saling pandang. Regantara justru menghela napas pelan, nyaris tak terdengar. “Bukan kamu,” celetuk Binar jujur. Gadis kecil itu me







