Arlo tertawa geli. Dia mengulurkan tangan dan merangkul bahu Isyana sambil berkata, "Kejadiannya mendadak sekali, aku nggak sempat memikirkan banyak hal. Lagian, aku nggak mau kamu khawatir.""Huh!"Isyana mendengus manja. Sebenarnya dia juga tahu, meskipun Arlo memberitahunya lebih awal, dia tetap tidak akan bisa membantu. Semakin dia tahu betapa kuatnya lawan-lawan Arlo, semakin besar pula keinginannya untuk segera menjadi lebih kuat.Namun, tentu saja dia tidak akan mengatakannya. Dia sengaja memasang wajah masam dan berkata, "Huh, kali ini aku maafkan. Tapi lain kali, kamu nggak boleh menyembunyikan apa pun dariku.""Iya, iya." Arlo mengusap pipi Isyana dengan jarinya dan langsung menyetujuinya.Barulah Isyana merasa puas. Dia kemudian bertanya, "Kalau begitu, jawab yang jujur. Kamu datang ke Klan Hanafi kali ini bukan untuk bertarung lagi, 'kan?"Arlo memutar bola matanya dengan kesal. "Memangnya aku tipe orang yang ke mana-mana selalu bertarung sama orang lain?"Isyana tidak menj
続きを読む