Suara lirih itu, meski hanya sebuah bisikan yang nyaris teredam masker oksigen, terdengar seperti dentum guntur di telinga Rina. Ia segera menghapus air matanya dengan punggung tangan, lalu bangkit dan mendekatkan wajahnya ke sisi ranjang, memastikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi."Iya, Mi ... ini aku. Aku di sini," sahut Rina dengan suara bergetar. Ia menggenggam jemari Fahmi yang dingin, memberikan remasan lembut sebagai tanda bahwa pria itu tidak sendirian.Kelopak mata Fahmi bergerak gelisah sebelum akhirnya terbuka perlahan. Pupil matanya tampak sulit fokus sejenak, namun tak butuh waktu lama bagi ketajaman matanya untuk kembali. Cahaya lampu neon di plafon rumah sakit tampak mengganggunya, tapi Fahmi menolak untuk memejamkan mata lagi. Dia ingin memastikan Rina ada di depannya."Rina …," panggilnya, suaranya parau tapi terdengar tegas."Haus, Mi? Sebentar, aku ambilkan air," ucap Rina cekatan. Ia menggunakan sendok kecil untuk membasahi bibir Fahmi yang pecah-pecah dengan
Read more