“Indira!”Bara reflek menangkap tubuh Indira yang terkulai, membaringkannya kembali ke atas ranjang. Wajah perempuan itu pucat pasi, bibirnya membiru, napasnya terengah tak beraturan. Monitor di samping ranjang berbunyi nyaring, membuat suasana kamar rawat mendadak kacau.“Panggil dokter! Sekarang!” bentak Bara, suaranya bergetar antara panik dan marah.Perawat yang berjaga segera berlari keluar. Bara menggenggam tangan Indira erat, dingin. Jantungnya berdetak liar, rasa bersalah menghantamnya tanpa ampun.“Indira… buka mata kamu, tolong,” bisiknya parau.Mayang berdiri terpaku beberapa langkah dari ranjang. Wajahnya yang tadi keras perlahan berubah, bukan lembut, tapi terkejut. Ia tak menyangka perempuan itu benar-benar pingsan di depan matanya.Tak lama kemudian dokter masuk bersama dua perawat. Mereka bergerak cepat, memeriksa tekanan darah, memasang alat, dan menanyakan kondisi terakhir.“Tekanan darahnya tinggi, ini tiba-tiba sekali,,” ujar dokter dengan nada serius. “Dia mengala
Last Updated : 2025-12-15 Read more