Selene menatapnya lama, lalu mengangguk kecil. “Baik.”Namun sebelum berbalik pergi, ia menambahkan, “Tapi jangan salah paham. Aku berhenti bukan karena takut… melainkan karena aku mempercayaimu.”Pintu tertutup kembali, meninggalkan Dirian sendirian di ruang kerjanya.Ia berdiri diam beberapa saat, lalu menatap meja kacamata peraknya tergeletak miring, seperti sesuatu yang ditinggalkan dengan tergesa. Dirian mengangkatnya perlahan, dan untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya menunjukkan satu hal yang tidak ia akui pada siapa pun yaitu ketakutan kehilangan, yang ia samarkan dengan kekuasaan.Selene meninggalkan koridor batu kastil dengan langkah yang terukur. Udara sore terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin itu hanya perasaannya saja. Pikirannya masih dipenuhi percakapan terakhir dengan Dirian nada suaranya, tatapannya, dan cara ia berusaha menutup segala sesuatu rapat-rapat, seolah semua ini adalah beban yang hanya pantas ia pikul sendiri.Pondok Lamina berdiri agak terpi
Last Updated : 2026-02-24 Read more