Sylar menelan ludah. Jarinya mengepal tanpa sadar. “Terima kasih,” katanya singkat.Raze mengangguk, lalu melangkah pergi dengan tenang, langkahnya perlahan menghilang di ujung lorong.Sylar tetap berdiri di tempatnya, menatap punggung pria itu sampai benar-benar tak terlihat lagi. Kata keluarga kembali terngiang di kepalanya bukan sebagai penghiburan, melainkan sebagai sesuatu yang membuat dadanya terasa semakin berat.Di belakangnya, pintu ruang perawatan tetap tertutup.Dan di dalam hatinya, Sylar tak bisa menepis satu perasaan samar yaitu ucapan itu terdengar terlalu hangat… untuk seseorang yang belum sepenuhnya ia pahami.Malam benar-benar telah menelan kota ketika Mateo, Bjorn, Jay, dan Lamina akhirnya berhenti di depan bangunan itu. Letaknya tersembunyi di antara gudang-gudang tua, seolah sengaja dipinggirkan dari ingatan orang-orang.Dindingnya kusam, catnya mengelupas, namun satu detail mencolok tetap bertahan sebuah pintu berwarna hijau tua, warnanya pekat dan tidak wajar, s
อ่านเพิ่มเติม