Dirian terdiam. Bukan karena tidak punya jawaban, tetapi karena ia tahu kalimat itu bukan sekadar penolakan. Itu adalah perisai. Selene jarang menggunakannya, dan hanya ketika ia merasa terlalu lelah untuk menjelaskan, atau terlalu takut untuk jujur.“Aku suamimu,” kata Dirian akhirnya, suaranya tidak meninggi, namun mengeras. “Jika sesuatu membuatmu pulang dengan wajah seperti itu, maka itu urusanku.”Selene menghela napas, panjang dan tertahan. Ia memalingkan wajahnya sesaat, menatap ke arah tangga, seolah jika ia menatap lebih lama lagi pada Dirian, kata-kata yang selama ini ia simpan akan runtuh begitu saja.“Tidak malam ini,” katanya pelan, namun tegas. “Aku lelah.”Ia melangkah menjauh, meninggalkan Dirian berdiri se
Read more