LOGINDirian terdiam. Bukan karena tidak punya jawaban, tetapi karena ia tahu kalimat itu bukan sekadar penolakan. Itu adalah perisai. Selene jarang menggunakannya, dan hanya ketika ia merasa terlalu lelah untuk menjelaskan, atau terlalu takut untuk jujur.
“Aku suamimu,” kata Dirian akhirnya, suaranya tidak meninggi, namun mengeras. “Jika sesuatu membuatmu pulang dengan wajah seperti itu, maka itu ur
Jayreth mengangguk pelan. “Bukan sekadar menyebut namanya,” katanya hati-hati. “Cara dia berbicara terlalu sering, terlalu rinci. Seolah setiap percakapan, cepat atau lambat, kembali pada satu titik yang sama.”Sylar menghembuskan napas panjang. Jemarinya yang menggenggam tangan Mona mengencang tanpa ia sadari.“Itu… tidak masuk akal,” katanya akhirnya. “Tidak setelah semua yang terjadi.”“Pikiranku juga begitu,” sahut Jayreth lirih. “Grand duke bukan orang yang mudah teralihkan. Jika perhatiannya menetap, selalu ada alasan.”Sylar menunduk. Pandangannya jatuh pada wajah Mona yang pucat dan tak bergerak, lalu perlahan tanpa ia inginkan pikirannya melayang pada sosok lain. Kakaknya, Selene yang adalah Duchess Leventis.“Kakakku…” ucapnya pelan, seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Dia bukan seseorang yang mencari perhatian. Dia bahkan sering menghindarinya.”Kalimatnya terhenti. Ada jeda yang berat di antara mereka.“Dan justru itu,” lanjut Sylar dengan nada bingung, “yang membuatk
Keheningan kembali turun.Bjorn dan Jay mundur beberapa langkah, memberi ruang bukan karena diperintah, melainkan karena mereka tahu jika ada pertempuran yang tidak bisa disaksikan siapa pun.Dirian tetap berdiri di sana, sendirian di tengah aula kastil yang luas. Untuk pertama kalinya sejak lama, dinding-dinding yang biasanya memberinya rasa aman terasa seperti penjara.Dan di suatu tempat di dalam kastil yang sama, Selene berjalan menjauh membawa kelelahan, muak, dan keinginan yang samar namun berbahaya yaitu keinginan untuk merasakan hidup yang berbeda, meski ia harus melakukannya sendirian.Sementara itu,Ruang rawat itu sunyi, terlalu sunyi untuk ukuran sebuah tempat yang menahan hidup seseorang di batas tipis antara sadar dan tidak. Tirai putih tergantung rapi, aroma obat masih menggantung di udara, dan suara detak alat medis menjadi satu-satunya irama yang berani memecah keheningan.Mona terbaring di ranjang, wajahnya pucat namun damai terlalu damai, seolah dunia di luar sana t
Dirian menutup matanya sesaat. Dadanya terasa sesak. Jika aku melangkah mendekat, aku melanggarmu.Jika aku mundur, aku kehilanganmu.Ia membuka mata kembali. “Berapa lama?” tanyanya akhirnya. “Jika aku menjauh… berapa lama kau membutuhkannya?”Selene menggeleng pelan. “Aku tidak tahu,” jawabnya jujur. “Dan mungkin itu yang paling menakutkan.”Keheningan kembali turun di antara mereka, berat dan tak terhindarkan.Langkah kaki Bjorn dan Jay terdengar mendekat terlalu cepat, terlalu tiba-tiba memotong ruang hening yang baru saja terbentuk antara Dirian dan Selene. Keduanya jelas tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Tidak tahu bahwa kata-kata barusan bukan sekadar percakapan, melainkan retakan.Jay yang pertama berbicara, nadanya serius seperti biasa. “Kami tidak menemukan jejak Viviene di mana pun.”Dirian tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertinggal pada punggung Selene, seolah sebagian dari dirinya belum kembali sepenuhnya ke tempat ia berdiri.Dan sebelum ia sempat membuka
Dagny dan Divrio masih berdiri di dekat Selene, wajah mereka penuh rasa ingin tahu yang belum terjawab. Selene menatap kedua anak itu sejenak, lalu menarik napas pelan. Ia tersenyum senyum tipis yang lebih ditujukan untuk menenangkan daripada menunjukkan perasaan.“Kalian kotor,” katanya lembut sambil menepuk bahu Dagny dan merapikan lengan baju Divrio yang penuh debu. “Pergi mandi dan bersihkan diri. Ganti pakaian, lalu makan.”Dagny mengerjap. “Tapi—”“Sekarang,” potong Selene halus, namun tegas. Nada yang tidak biasa dibantah.Divrio menatap Selene beberapa detik, lalu mengangguk pelan. Ia menarik tangan Dagny. “Ayo,” katanya. “Ibu benar.”Keduanya berlari kecil menjauh, suara langkah mereka perlahan menghilang di lorong panjang kastil.Begitu mereka pergi, aula itu terasa jauh lebih sunyi.Selene berdiri diam beberapa detik, memastikan anak-anak benar-benar tidak lagi di sekitar. Lalu ia berbalik menghadap Dirian.Tatapan Selene tenang bahkan terlalu tenang namun justru di sanalah
Beberapa prajurit menundukkan kepala, berpura-pura sibuk merapikan barisan, mengatur ulang tali sarung pedang, atau sekadar meluruskan postur. Yang lain berdiri kaku, pandangan lurus ke depan, seolah disiplin bisa menjadi tameng dari kecanggungan yang tiba-tiba menyelimuti lapangan.Mereka mengenal Duke Leventis sebagai lelaki yang mengendalikan perang, wilayah, dan keputusan besar seorang pemimpin yang tak pernah goyah di hadapan darah dan kematian.Namun urusan hati… itu wilayah yang tak seorang pun berani sentuh. Terlalu rapuh. Terlalu manusiawi.Dirian mengepalkan tangannya perlahan. Buku-buku jarinya memucat, lalu ia melepaskannya lagi, seakan menyadari bahwa tenaga dan kendali yang selalu ia banggakan tak berarti apa-apa di sini.“Semalam,” katanya akhirnya, suaranya lebih rendah dari biasanya lebih seperti pengakuan daripada perintah—“dia bertanya apakah aku mencintainya.”Kata-kata itu jatuh pelan, namun bobotnya terasa berat. Tidak ada yang menyela. Tidak ada yang berani. Bah
Selene memejamkan mata. Napasnya bergetar.“Aku lelah menjadi kuat,” katanya. “Aku hanya ingin dicintai… tanpa harus terluka lebih dulu.”Keheningan kembali turun. Tidak ada pelukan. Tidak ada sentuhan. Hanya dua orang yang saling berdiri, terlalu dekat untuk pergi, terlalu terluka untuk langsung berdamai.Dirian menunduk sedikit, bukan sebagai penguasa, bukan sebagai duke melainkan sebagai suami.“Jika kau masih memberiku kesempatan,” ucapnya pelan, “aku ingin belajar mencintaimu tanpa melukaimu.”Selene tidak langsung menjawab.Pagi itu datang tanpa membawa kelegaan.Selene terjaga lebih lama dari biasanya, berbaring dengan mata







