Laila menyeringai tipis, matanya merah oleh amarah yang tidak tertahan.“Kamu pikir kamu menang?” ulangnya, suaranya bergetar.Khalisa melepas pegangan tangannya perlahan. Ia mundur setengah langkah, berdiri tegak. Dadanya naik turun, tapi matanya mantap menatap perempuan yang selama ini ia panggil ibu.“Bu,” ucap Khalisa tegas, suaranya tidak tinggi tapi penuh tekanan, “saya tidak pernah menginginkan kemenangan atas siapa pun.”Lorong masih sunyi. Beberapa orang sengaja memperlambat langkah, pura-pura sibuk dengan ponsel, tapi jelas mendengar.“Saya hanya ingin hak saya sebagai perempuan saya dapatkan,” lanjut Khalisa. “Sebagai istri yang sah. Sebagai manusia.”Laila tertawa pendek. Tawa yang kasar, nyaris seperti orang kehilangan kendali.“Perempuan?” teriaknya tiba-tiba, suaranya menggema di lorong. “Sejak awal aku memang tidak pernah menyukaimu, Khalisa!”Dinda menegang. Bu Vina menghela napas pelan.Khalisa tidak mundur. Tidak menunduk.“Bu,” katanya lagi, kali ini lebih dingin,
Terakhir Diperbarui : 2026-01-11 Baca selengkapnya