Hari-hari berlalu cepat.Toko Khalisa seperti tidak pernah tidur. Pagi dibuka dengan live, siang melayani pelanggan offline, sore packing, malam balas chat dan cek stok. Nadia semakin luwes di depan kamera. Suaranya ramah, cekatan menjawab pertanyaan pembeli. Penjualan naik signifikan sejak Nadia rutin live.“Lis, ini yang warna sage habis lagi,” seru Nadia dari depan rak.Khalisa menoleh dari laptop. “Catat, besok aku ambil sekalian.”Dinda yang sedang mencoba gamis baru di depan cermin kecil tertawa. “Lis, ini kalau kamu pakai pasti laku keras. Badan kamu tuh pas banget buat potongan ini.”Khalisa tersenyum tipis. “Kamu aja yang jadi model, Din.”Dinda mengedikkan bahu. “Siap, Bos.”Kata itu bukan candaan lagi. Khalisa memang sudah jadi bos—bukan karena ingin berkuasa, tapi karena ia bertahan saat semua orang meragukannya.Hari demi hari, toko Khalisa semakin dikenal. Ia tidak hanya menjual gamis dan hijab, tapi juga mukena, sajadah, tasbih, bahkan paket hampers muslim. Semua ia pel
Terakhir Diperbarui : 2026-01-26 Baca selengkapnya